RSS

Senin, 15 April 2013

PERBEDAAN MASYARAKAT DESA ( RURAL ) DAN KOTA ( URBAN )


PERTANYAAN

1)      Apa perbedaan secara umum antara masyarakat pedesaan (rural) dan perkotaan (urban)?
2)      Bagaimana pola makan antara masyarakat pedesaan (rural) dan perkotaan (urban)? Penyakit apa yang dapat timbul dengan pola makan tersebut?
3)      Bagaimana pelayanan kesehatan masyarakat pedesaan (rural) dan perkotaan (urban)?
4)      Bagaimana kehidupan sosial masyarakat pedesaan (rural) dan perkotaan (urban)?


PEMBAHASAN



1.     Perbedaan Masyarakat Rural (Pedesaan) dan Masyarakat Urban (Perkotaan)

      Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat perkotaan (urban community) dan masyarakat pedesaan (rural community).
  1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam
 Masyarakat perdesaan berhubungan kuat dengan alam, karena lokasi geografisnya di daerah desa. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam. Berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.
  1. Pekerjaan atau Mata Pencaharian
Pada umumnya mata pencaharian di dearah perdesaan adalah bertani tapi tak sedikit juga yg bermata pencaharian berdagang, sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha.
  1. Ukuran Komunitas
Komunitas perdesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan.



  1. Kepadatan Penduduk
Penduduk desa kepadatannya lbih rendah bila dibandingkan dgn kepadatan penduduk kota,kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dgn klasifikasi dari kota itu sendiri.
  1. Homogenitas dan Heterogenitas
Homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku nampak pada masyarakat perdesa bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dengan macam-macam perilaku, dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen.
  1. Diferensiasi Sosial
Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yg tinggi di dlm diferensiasi Sosial.
  1. Pelapisan Sosial
Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam bentuk “piramida terbalik” yaitu kelas-kelas yg tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.





2.     Perbedaan Pola Makan Serta Penyakit yang Ditimbulkan antara Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan


Berdasarkan penelitian, perilaku makan seseorang berkaitan dengan tempat di mana ia melakukan sosialisasi dan interaksi dengan masyarakatnya. Kepercayaan suatu masyarakat tentang makanan berakibat pada kebiasaan makan serta berakibat pula pada kondisi gizinya.
Pasalnya, kebiasaan makan merupakan sesuatu yang sangat kompleks karena menyangkut tentang cara memasak, suka dan tidak suka, serta adanya berbagai kepercayaan dan pantangan – pantangan. Dengan kata lain, kebiasaan makan tidak hanya sekadar mengatasi tubuh manusia saja, melainkan dapat memainkan peranan penting dan mendasar terhadap ciri-ciri dan hakikat budaya makan. Di sisi lain, kehidupan manusia di abad globalisasi ini sangat kompleks dan multikultural.
Berbagai fenomena tersebut hadir di tengah masyarakat, begitu juga dengan makanan. Di era global ini pula, ketika satu negara dengan negara lainnya saling berinteraksi, sudah menjadi lumrah negara maju akan lebih mudah memberi pengaruh kepada negara yang belum maju atau sedang berkembang.
Demikian pula dalam hal pola makan. Dari kota sampai di desa mengalami perubahan yang sangat drastis. Menjamurnya gerai-gerai makanan cepat saji (fast food) merupakan salah satu indikasinya. Kalau Anda berkunjung ke pusat perbelanjaan, cobalah perhatikan menu yang paling banyak diminati, tentulah makanan junk food. Tampak kaula muda, kalangan eksekutif maupun menengah ke bawah tengah menyantap dengan lahap hidangan tersebut dengan sesekali menyeruput soft drink dingin.
Ironisnya, kegemaran makan sayur-sayuran dan buah-buahan, berupa lalapan sebagai tradisi orang tua yang menyehatkan, mulai pupus digerus oleh makanan junk food yang di negara asalnya justru diberi label makanan sampah. Persoalannya sederhana, pada zaman serba cepat seperti sekarang ini, orang tidak mau lagi repot-repot untuk mengolah makanan yang bergizi dan menyehatkan. Sehingga makanan berlemak dan berkalori tinggi menjadi santapan sehari - hari. Ayam goreng, kentang goreng, soto, bakso, sate, dan sejenisnya menjadi menu utama. Tidak ada yang salah dengan semua jenis makanan tersebut. Namun, ada pola tersendiri agar Anda tidak terjebak dengan pola makan yang buruk tersebut. Inilah salah satu pola makan masyarakat urban.

a.      Pada masyarakat rural (desa) memiliki pola makan dan penyakit yang ditimbulkan sebagai berikut:

·         Masyarakat desa biasanya memiliki profesi sebagai petani. Pada saat jam makan, mereka pasti membawa bekal dari rumah untuk dimakan. Pada saat jam makan, mereka tidak peduli dengan kondisi tangan mereka apakah sudah bersih atau masih kotor, karena semakin laparnya mereka tidak peduli. Sehingga para masyarakat pedesaan sudah terbiasa tidak mencuci tangan sebleum makan.
Sehingga mengakibatkan bakteri atau kuman masuk kedalam tubuh mereka melalui makanan tersebut. Penyakit yang biasa terjadi adalah demam, cacingan, diare, dan alergi. Penyakit yang timbul memang jenis penyakit yang biasa tetapi kalu dibiasakan bisa mendatangkan kematian, sehingga masyarakat tersebut secara perlahan akan terserang penyakit dalam jangka waktu yang lama.

·         Dalam budaya pedesaan dikenal dengan makanan tradisional. Salah satunya mengkonsumsi  kuning telur ayam kampong  atau unggas yang mentah. Meski telur baik untuk tubuh, telur sering juga menjadi salah satu penyebab keracunan makanan. Bakteri Salmonella enteriditis yang banyak dijumpai pada unggas dan telur ayam berperan besar menimbulkan penyakit pada makanan manusia.

Dampak dari keracunan bakteri ini adalah diare disertai pusing, demam atau sakit perut. Gejala keracunan salmonella pada manusia biasanya baru terdeteksi setelah 5 sampai 36 jam. Keracunan salmonella diawali dengan sakit perut dan diare yang disertai juga dengan panas badan yang tinggi, perasaan mual, muntah, pusing-pusing dan dehidrasi. Hal ini lebih berbahaya lagi bagi anak-anak atau orang tua yang daya tahan tubuhnya lemah.
Bila sudah nampak tanda-tanda keracunan Salmonella penderita harus segera dibawa ke dokter. Setiap telur segar belum tentu mengandung Salmonella. Tetapi bila telur segar atau makanan yang mengandung telur mentah dibiarkan pada suhu ruang dalam beberapa hari, barulah bakteri ini dapat berkembang dan membahayakan tubuh manusia. Oleh karena itu sebaiknya hindari konsumsi telur dalam keadaan mentah.
Berdasarkan pola makan tersebut, maka penyakit yang sering menjangkit masyarakat pedesaan (rural) yaitu seperti tuberculosis, keracunan, diare, cacingan, demam berdarah, stroke dan hipertensi .
b.      Pada masyarakat urban (kota) memiliki pola makan sebagai berikut :

·         Kebiasaan masyarakat urban dalam mengkonsumsi soda atau berkarbonasi  dapat menyebabkan diabetes, karena didalam soda tersebut mengandung glikosa tinggi yang tidak dapt dipecah menjadi energi yang pada akhirnya menimbulkan tumpukan lemak ( obesitas )
·         Masyarakat urban yang gemar makan lauk pauk dan  yang praktis serta mebgkonsumsi buah – buahan yang rendah atau tanpa serat mengakibatkan usus mereka bermasalah yang akan mengakibatkan sembelit  atau susah BAB serta kanker kolon.
·         Masyarakat urban lebih suka menggunakan pola hidup dan makan yang praktis. Makan praktis, minum pun praktis. Tetapi mereka tidak memikirkan kesehatan yang akan terjadi di kemudian hari. Pola makan yang demikian dapat menyebabkan penyakit, yaitu salah satunya kanker. Contohnya pada masyarakat kota yang malas masak untuk sarapannya, dan lebih praktis hanya dengan membeli roti di supermarket ataupun di warung – warung.
            Makanan yang mengandung zat kimia didalamnya jika dikonsumsi terus menerus bisa mengakibatkan kanker dalam tubuhnya. Mulai dari kanker kecil hingga kanker ganas. Perubahan penyakit ini tidak terlihat ketika mereka mengkonsumsinya pada hari itu juga, tetapi gejala ini akan terjadi di usia 30 tahun keatas, dan di usia inilah penyakit tersebut mulai merangsang kedalam tubuh dan malah akan menjadi lebih parah.
      Penduduk kota memiliki kesibukan yang tinggi. Sehingga menimbulkan banyak gangguan kesehatan. Keluhan- keluhan masyarakat super sibuk ini dapat diklarifikasikan sebagai berikut bila mereka tidak segera menjaga pola makan yang baik dan benar, yaitu diantaranya :
1.      Kolesterol tinggi,gula darah tinggi dan tekanan darah tinggi atau rendah
2.      Stroke,asam urat,jantung dan diabetes
3.      Keluhan akibat menopouse
4.      Osteoporosis atau tulang keropos
5.      Berbagai masalah pencernaan seperti maag, susah BAB dan wasir
6.      Daya tahan tubuh terhadap penyakit yang lemah atau mudah sakit
7.      Kanker prostat,kanker payudara dan sakit ginjal
8.      Obesitas atau kegemukan
9.      Stamina tubuh yang loyo dan kurang vitalitas

Fakta menunjukkan sebagian besar masyarakat begitu bangga akan fast food atau junk food. Tanpa mereka ketahui, dari perilaku tersebut, penyakit degeneratif seperti disebutkan di atas, dapat mengancam setiap saat. Maka dari itu, istilah penyakit degeneratif akhir-akhir ini menjadi pembicaraan hangat berbagai kalangan dan bukan lagi menjadi konsumsi para dokter dan ahli medis.
Penyakit degeneratif adalah istilah medis untuk menjelaskan suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk.
Penyakit degeneratif saat ini banyak terjadi di kalangan masyarakat perkotaan. Penyebab utamanya adalah perubahan gaya hidup akibat urbanisasi dan modernisasi. Kondisi tersebut dapat dilihat jelas dengan munculnya tempat-tempat makan junk food di hampir setiap sudut kota. Ahli Gizi RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Sri Maryani SGz, mengungkapkan, junk food adalah makanan tidak sehat yang belum diketahui benar berapa besar asupan nutrisinya. “Jenis makanan junk food mengandung lemak jenuh, garam dan gula, serta bermacam-macam zat additive atau penambah rasa makanan seperti monosodium glutamate dan tartrazine dengan kadar yang tinggi. Dapat dipastikan, junk food hampir tidak mengandung protein, vitamin serta serat yang sangat dibutuhkan tubuh,” ungkapnya.
Sementara itu, penyakit degeneratif yang tidak menular sebenarnya telah menjadi masalah yang cukup serius bagi banyak negara di dunia. Faktanya, saat ini telah banyak pasien di rumah sakit mulai memiliki tanda-tanda penyakit degeneratif tersebut meski masih berusia muda.






3.     Pelayanan Kesehatan Masyarakat Rural dan Urban


Tingkat kepercayaan masyarakat desa terhadap petugas kesehatan masih rendah karena mereka masih percaya kepada dukun, sehingga kita perlu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat desa tentang dunia medis.
Gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan di kelompokkan dalam sajian informasi mengenai sarana kesehatan dan tenaga kesehatan.

a.      Sumber daya di desa

Ø  Sarana Kesehatan
1)      Puskesmas
Di desa untuk saat ini hampir 100% sudah membangun puskesmas untuk mensejahterakan masyarakatnya. Secara konseptual, puskesmas menganut konsep wilayah dan diharapkan dapat melayani sasaran jumlah penduduk yang ada di wilayah masing-masing.
2)      BPS (Bidan Praktek Swasta)
Merupakan salah satu sumber daya yang dapat mensejahterakan kesehatan ibu dan anak. Di BPS bidan dapat memberikan penyuluhan yang dapat meningkatkan kesehatan ibu dan anak di wilayah tersebut, khususnya di daerah pedesaan.
3)      Sarana Kesehatan di Desa Bersumber Daya Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) diantaranya adalah:
1.      Posyandu
Posyandu merupakan jenis UKM yang paling memasyarakatkan dewasa ini. Posyandu yang meliputi lima program prioritas yaitu: KB, KIA, Imunisasi, dan penanggulangan Diare. Terbukti mempunyai daya ungkit besar terhadap penurunan angka kematian bayi. Sebagai salah satu tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang langsung bersentuhan dengan masyarakat level bawah, sebaiknya posyandu digiatkan kembali sperti pada masa orde baru karena terbukti ampuh mendeteksikan permasalahn gizi dan kesehatan di berbagai daerah. Permasalahan gizi buruk anak balita, kekurangan gizi, busung lapar dan masalah kesehatan lainnya menyangkut kesehatan ibu dan anak akan mudah dihindari jika posyandu kembali diprogramkan secara menyeluruh.
Kegiatan posyandu lebih dikenal dengan sistem lima meja yang meliputi:
1.      Meja 1: Pendaftaran
2.      Meja 2: Penimbangan
3.      Meja 3: Pengisian kartu menuju sehat
4.      Meja 4: Penyuluhan kesehatan pemberian oralit vitamin A, dan tablet besi
5.  Meja 5 : Pelayanan kesehatan yang meliputi imunisasi, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, serta pelayanan keluarga berencana.
b.   PKK
Adalah gerakan pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah dengan wanita sebagai motor penggerakan untuk membangun keluarga sebagai unit atau kelompok terkecil dalam masyarakat dan bertujuan membantu pemerintah untuk ikut serta memperbaiki dan membina tata kehidupan dan penghidupan keluarga yang dijiwai oleh Pancasila menuju terwujudnya keluarga yang dapat menikmati keselamatan, ketenangan dan ketentraman hidup lahir dan bathin (keluarga sejahtera).
c.       Pos Obat Desa (POD)
Pos obat desa merupakan wujud peran serta masyarakat dalam hal pengobatan sederhana. Kegiatan ini dapat dipandang sebagai perluasan kuratif sederhana. Kegiatan ini dapat dipandang sebagai perluasan kuratif sederhana, melengkapi kegiatan preventif dan promotif yang telah di laksanakan di posyandu. Dalam implementasinya POD dikembangkan melalui beberapa pola di sesuaikan dengan stuasi dan kondisi setempat. Beberapa pengembangan POD itu antara lain:
a.       POD murni, tidak terkait dengan UKBM lainnya.
b.      POD yang di integrasikan dengan Dana Sehat.
c.       POD yang merupakan bentuk peningkatan posyandu.
d.      POD yang dikaitkan dengan pokdes/ polindes.
e.   Pos Obat Pondok Pesantren ( POP ) yang dikembangkan di beberapa pondok pesantren.
POD jumlahnya belum memadai sehingga bila ingin digunakan di unit-unit desa, maka seluruh, diluar kota yang jauh dari sarana kesehatan sebaiknya mengembangkan Pos Obat Desa masing-masing.
d.      Poskesdes
Merupakan pelayanan kesehatan yang bersumber pada daya masyarakat yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan dan menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat yang ada di desa.
b.    Polindes
Merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam rangka mendekatkan pelayanan kebiadanan melalui penyediaan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Ø  Sarana Tenaga Kesehatan
a.       Bidan Desa
Bidan Desa adalah bidan yang ditempatkan, diwajibkan tinggal serta bertugas melayani masyarakat di wilayah kerjanya, yang meliputi satu atau dua desa yang dalam melaksanakan tugas pelayanan medik baik di dalam maupun di luar jam kerjanya bertanggung jawab langsung kepada kepala Puskesmas dan bekerja sama dengan perangkat desa.
b.      Dukun Bersalin
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan non-medis seringkali dilakukan oleh seseorang yang disebut sebagai dukun beranak, dukun bersalin atau peraji. Pada dasarnya dukun bersalin diangkat berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat atau merupakan pekerjaan yang sudah turun temurun dari nenek moyang atau keluarganya dan biasanya sudah berumur ± 40 tahun ke atas.
Dukun dapat dibedakan menjadi:
1.   Dukun Terlatih
Dukun terlatih adalah dukun yang telah mendapatkan latihan oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus.
2.   Dukun tidak terlatih
Dukun tidak terlatih adalah dukun bayi yang belum pernah dilatih oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus.
        Peranan dukun beranak sulit ditiadakan karena masih mendapat kepercayaan masyarakat dan tenaga terlatih yang masih belum mencukupi. Dukun beranak masih dapat dimanfaatkan untuk ikut serta memberikan pertolongan persalinan.

b.      Sumber Daya di Kota

Ø  Sarana Kesehatan
1)      Puskesmas
Seperti halnya di desa, di kota juga terdapat puskesmas, akan tetapi untuk mekanisme pengobatan masyarakat lebih banyak pergi ke rumah sakit. Pembinaan pembangunan kesehatan dengan adanya puskesmas yang memiliki tenaga dokter yang didukung tenaga keperawatan/bidan, non medis lainnya sesuai standar, sarana dan biaya operasional yang memadai, sehingga puskesmas mampu melaksanakan pelayanan obstretrik dan neonatal emergensi dasar (PONED) dan diperlukan potensi peningkatan pengetahuan tenaga medis.
2)      Rumah Sakit
Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan rumah sakit antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan yang biasanya diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidurnya serta rasio terhadap jumlah penduduk. Semua RS kabupaten/kota mampu melaksanakan pelayanan Obstretrik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), sehingga kemauan kemampuan dan kesadaran penduduk dalam upaya kesehatan ibu dan anak dapat diwujudkan. Setiap daerah dapat memanfaatkan sumber daya yang ada, dari APBD, termasuk lembaga donor internasional.
3)      Klinik Bersalin
Merupakan suatu institusi professional yang menangani proses persalinan dan pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lainnya. Klinik bersalin biasanya lebih banyak terdapat di daerah perkotaan.
4)      Sarana produksi dan distribusi sedian dan alat kesehatan
Salah satu factor penting untuk menggambarkan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan adalan jumlah sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan.

Ø  Sarana Tenaga Kesehatan
1. Dokter Kandungan
2. Bidan
3. Apoteker
4. Perawat
5. Ahli Gizi
6. Tenaga Kesehata Masyarakat
4.     Perbedaan Kehidupan Sosial Masyarakat Rural dan Urban

      Masyarakat Pedesaan, Pada situasi dan kondisi ini sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikkan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga atau anggota masyarakat yang sangat kuat yang hakekatnya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat , bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat karena beranggapan bahwa sebagai sesama makhluk sosial hendaknya saling mencintai, saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat.

      Sedangkan pada masyarakat perkotaan. Jalan pikiran rasional ,menyebabkan interaksi – interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.

      Kita dapat membedakan masyarakat desa dengan masyarakat kota yang masing-masing mempunyai perbedaan karakteristik sendiri, yaitu:

a.      Ciri-ciri masyarakat pedesaan

Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat pedesaan yaitu :
·           Perilaku homogency , yakni perilaku yang dilandasi konsep kekeluargaan dan kebersammaan.
·         Kehidupan didesa masyarakatnya masih memegang teguh keagamaan atau adat dari leluhur mereka.
·         Warga pedesaan lebih condong saling tolong-menolong tidak hidup individualisme.
·         Warga pedesaan mayoritas memiliki pekerjaan sebagai petani.
·         Fasilitas-fasilitas masih sulit ditemukan dipedesaan.
·         Warganya masih sulit untuk menerima hal baru atau mereka tertutup dengan hal-hal yang baru.

b.      Ciri-ciri masyarakat Perkotaan

Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :
Ø  Perilaku heterogen; Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan.                                                  
Ø  Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
Ø  Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
Ø  Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
Ø  Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
Ø  Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.

Ada beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara desa dan kota.
Dengan melihat perbedaan perbedaan yang ada mudah mudahan akan dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakah suatu masyarakat dapat disebut sebagi masyarakat pedeasaan atau masyarakat perkotaan.

Ciri ciri tersebut antara lain :
1.      jumlah dan kepadatan penduduk.
2.      lingkungan hidup.
3.      mata pencaharian.
4.      corak kehidupan sosial.
5.      stratifiksi sosial.
6.      mobilitas sosial.
7.      pola interaksi sosial.
8.      solidaritas sosial.
9.      kedudukan dalam hierarki sistem administrasi nasional.
      Selain itu ada beberapa perbedaan pelapisan sosial yang tak resmi antara masyarakat desa dan kota:
a.       pada masyarakat kota aspek kehidupannya lebih banyak system pelapisannya dibandingkan dengandi desa.
b.      pada masyarakat desa kesenjangan antara kelas eksterm dalam piramida sosial tidak terlalu besar dan sebaliknya.
c.       masyarakat perdesaan cenderung pada kelas tengah.
d.      ketentuan kasta dan contoh perilaku.
Dalam kehidupan sosial masyarakat perkotaan jauh berkembang dari masyarakat pedesaan, akan tetapi dalam kehidupan bersosialisasi, masyarakat pedesaan lebih mudah bersosialisasi dengan daerah sekitar mereka tinggal, bahkan orang yang hidup di pedesaan mereka tidak hanya mengenal tetangga desa mereka saja bahkan keluar dari desa mereka pun mereka tetap saling mengenal, ketimbang masyarakat perkotaan tetangga samping merekapun belum tentu mereka kenal, hal ini disebabkan kehidupan perkotaan hanya mementingkan diri sendiri.





DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2012. Perbedaan Masyarakat Desa dan Kota. http://manusiabudaya.blogspot.com/2012/06/perbedaan-masyarakat-desa-kota.html diunduh pada tanggal 5 April 2013 pukul 16.00

Amanda. 2011. Interaksi Sosial Masyarakat Pedesaan. http://amandasialoone.blogspot.com/2011/12/interaksi-sosial-masyarakat-pedesaan.html diunduh pada tanggal 5 April 2013 pukul 16.30

Febrian. 2011. Perbedaan Masyarakat Kota dengan Desa. http://lorentfebrian.wordpress.com/perbedaan-masyarakat-kota-dengan-masyarakat-desa/ diunduh pada tanggal 5 April 2013 pukul 17.00

Gunadarma. 2012. Perbedaan Masyarakat Kota. http://viedevie-gunadarma.blogspot.com/2012/06/perbedaan-masyarakat-kota-dan.html diunduh pada tanggal 5 April 2013 pukul 16.00

Mirza. 2011. Kehidupan Kota dan Desa. http://mierzh.wordpress.com/2011/12/12/kehidupan-kota-dan-desa/  diunduh pada tanggal 5 April 2013 pukul 16.00

Sylvia. 2012. Perbedaan Masyarakat Pedesaan. http://sylviapinklovers.blogspot.com/2012/06/perbedaan-masyarakat-pedesaan-dan.html diunduh pada tanggal 5 April 2013 pukul 18.00

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright GLORY SHINE 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .