RSS

Jumat, 19 April 2013

MATERI RESPONSI




AGEN PENYAKIT
METERI RESPONSI


NAMA     : IDA MAHFIROH
NIM         : 25010112120057
KELAS   : A



FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2012

1.      Yeast Cell ( Khamir )
a.      Morfologi
Khamir mempunyai sel yang lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar. Khamir sangat beragam ukurannya,berkisar antara 1-5 μm lebarnya dan panjangnya dari 5-30 μm atau lebih. Biasanya berbentuk telur,tetapi beberapa ada yang memanjang atau berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas, namun sekalipun dalam biakan murni terdapat variasi yang luas dalam hal ukuran dan bentuk. Sel-sel individu, tergantung kepada umur dan lingkungannya. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ-organ penggerak lainnya. Khamir (Ragi/Yeast) ukurannya mikroskopik, seluler, dan berkembangbiak dengan membentuk budding (seperti koloni kalau pada bakteri) Contoh: Candida albicans (penyebab keputihan). ( Singgih, 2000 )                           
                                        
               Gambar 2.3. Yeast Cell ( Khamir ). (Prianto, 2006 )

b.      Penyebab Penyakit
Penyebab penyakit keputihan pada wanita, yang ditandai dengan munculnya bau tidak sedap, gatal – gatal serta banyaknya lendir pada daerah kewanitaan. ( Singgih, 2000 )
2.      Penicillium
a.      Pengertian
Penicillium adalah genus jamur ascomycetous major pentingnya dalam lingkungan alam serta produksi makanan dan obat yang membunuh atau menghentikan pertumbuhan beberapa jenis bakteri di dalam tubuh. (Prianto,2006 )

b.      Distribusi Geografik
Spesies Penicillium adalah jamur tanah di mana-mana lebih suka iklim dingin dan moderat, biasanya hadir dimanapun bahan organik yang tersedia. Spesies Penicillium yang hadir di udara dan debu dari lingkungan dalam ruangan, seperti rumah-rumah dan bangunan umum. ( Indrawati, 2000 )

c.       Morfologi
Ciri-ciri spesifik Penicillium adalah sebagai berikut :
1.    Hifa septat, miselium bercabang, biasanya tidak berwarna.
2.    Konidiofora septat dan muncul di atas permukaan, berasal dari hifa di bawah permukaan, bercabang atau tidak bercabang.
3. Kepala yang membawa spora berbentuk seperti sapu, dengan sterigmata atau fialida muncul dalam kelompok.
4. Konidia membentuk rantai karena muncul satu per satu dari sterigmata.
5. Konidia pada waktu masiuh muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kebiruan atau kecoklatan
6. berbentuk seperti jari – jari. ( Indrawati, 2000 )
                                         
      Gambar 2.4. Penicillium ( Prianto, 2006 )

d.      Penyebab Penyakit
Beberapa spesies diketahui patogen pada hewan, seperti P. corylophilum, P. fellutanum, P. implicatum, P. janthinellum, P. viridicatum, dan P. waksmanii adalah patogen potensial nyamuk,  P. marneffei, yang menyebabkan kematian pada tikus bambu Vietnam, telah menjadi umum Infeksi oportunistik Odha di Asia Tenggara.      ( Richard, 2000 )

3.      Aspergillus spp
a.      Distribusi Geografik
Spesies Aspergillus sangat aerobik dan ditemukan di hampir semua kaya oksigen lingkungan, di mana mereka biasanya tumbuh sebagai cetakan pada permukaan substrat, sebagai akibat dari tekanan oksigen yang tinggi., dan tumbuh di dalam atau di banyak tanaman dan pohon-pohon.

b.      Morfologi
Tubuh atau talus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari 2 bagian miselium dan spora (sel resisten, istirahat atau dorman). Miselium merupakan kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5-10 μm, dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1 μm. Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma bersama. Kapang (Mould) secara ukuran sudah mikroskopik, namun masih terlihat mata terutama karena serabut-serabutnya (hifa). Perkembangbiakan dengan menggunakan hifa. ( Adiguna, 2000 )
                              
                                Gambar 2.5. Aspergillus ( Prianto,2006)
c.       Penyebab Penyakit
Bagi manusia ada berbagai penyakit seperti infeksi pada telinga eksternal, lesi kulit, dan bisul digolongkan sebagai mycetomas. Aspergillus spp menyebabkan penyakit pada tanaman biji-bijian, terutama jagung dan mikotoksin mensintesis termasuk aflatoksin. (Siregar, 2009 )

4.      Mucor
a.      Pengertian
Mucor adalah genus mikroba dari sekitar 3000 spesies cetakan umumnya ditemukan di tanah, sistem pencernaan, permukaan tanaman, dan materi sayuran busuk. ( Adam, 1998 )

b.      Morfologi
Koloni jamur genus ini biasanya berwarna putih krem ​​atau abu-abu dan tumbuh cepat. Koloni pada medium kultur dapat tumbuh beberapa sentimeter tingginya. Koloni yang lebih tua menjadi abu-abu dalam warna coklat karena perkembangan spora. ( Mitcheli, 1998 )
Spora Mucor atau sporangiospores bisa sederhana atau bercabang dan membentuk apikal, sporangia globular yang didukung dan diangkat oleh columella kolom berbentuk. Spesies Mucor dapat dibedakan dari cetakan dari Absidia genera, Rhizomucor, dan Rhizopus oleh bentuk dan penyisipan columella, dan kurangnya rhizoids. Beberapa spesies Mucor menghasilkan chlamydospores. ( Adam, 1998 )
                                                 
                               Gambar 2.6. Mucor ( Prianto,2006 )
c.       Penyebab Penyakit
Menyebabkan keracunan jika dimakan atau digunakan.  Sebagian besar spesies dari Mucor tidak dapat menginfeksi manusia dan hewan endotermik karena ketidakmampuan mereka untuk tumbuh di lingkungan yang hangat mendekati 37 derajat Celcius. Spesies tahan panas seperti Mucor indicus kadang-kadang menyebabkan oportunistik, dan sering menyebar dengan cepat, necrotizing infeksi yang dikenal sebagai zygomycosis. ( Adam, 1998 )

5.      Bacillus spp
a.      Pengertian
Bacillus merupakan bakteri pembentuk spora yang tergolong dalam famili Bacillaceae,. Bakteri ini bersifat aerobik sampai anaerobik fakultatif, katalase positif, dan kebanyakan bersifat gram positif, hanya beberapa bersifat gram variabel. Bentuk spora yang diproduksi oleh Bacillus bermacam-macam, tergantung dari spesiesnya. ( Robert, 2002 )

b.      Distribusi Geografik
Spesies dari jenis Bacillus juga berbeda-beda dalam sifat pertumbuhannya. Beberapa bersifat mesofilik, misalnya B. subtilis, yang lainnya bersifat termofilik fakultataif misalnya B. coagulans, atau termofilik misalnya B. stearothermophilus. Biasanya berkembang biak pada makanan. ( Prianto, 2006 )

c.        Morfologi
Bacillus merupakan genus dari Gram-positif, berbentuk batang bakteri dan anggota dari filum Firmicutes. Spesies Bacillus dapat aerob obligat atau anaerob fakultatif, dan menguji positif untuk enzim katalase . Ubiquitous di alam, Bacillus meliputi spesies hidup bebas dan patogen. Dalam kondisi lingkungan stres, sel-sel menghasilkan endospora oval yang dapat tetap aktif untuk waktu yang lama. Karakteristik ini awalnya didefinisikan genus, tetapi tidak semua spesies tersebut terkait erat, dan banyak telah dipindahkan ke marga lain. ( Richard, 2008 )
                                    
                         Gambar 2.7. Bacillus spp ( Prianto, 2006 )

d.      Penyebab Penyakit
B. stearothermophilus sering menyebabkan kerusakan pada makanan kaleng dengan memproduksi asam tanpa gas, sehingga kerusakannya disebut “flat sour” (busuk asam tanpa gas). Spesies lainnya, misalnya B. polymyxa dan B. macerans, jika tumbuh pada makanan akan membentuk asam dan gas. Serta menyebabkan gatal – gatal di kulit. ( Robert, 2002 )

6.      Staphylococcus spp
a.      Pengertian
Merupakan genus dari bakteri Gram-positif. Di bawah mikroskop, mereka muncul bulat (kokus), dan bentuk dalam anggur seperti cluster Genus Staphylococcus termasuk setidaknya 40 spesies. (Robert, 2002)

b.      Distribusi Geografik
Sebagian besar tidak berbahaya . Berada normal pada kulit dan selaput lendir manusia dan organisme lainnya. Ditemukan di seluruh dunia, mereka adalah komponen kecil dari flora mikroba tanah. ( Rossenbach, 1884 )
c.       Morfologi
Staphylococcus merupakan bakteri berbentuk bulat yang terdapat dalam bentuk tunggal, berpasangan, tetrad, atau berkelompok seperti buah anggur. Nama bakteri ini berasal dari bahasa Latin “staphele” yang berarti anggur. Beberapa spesies memproduksi pigmen berwarna kuning sampai oranye misalnya S. aureus. Bakteri ini membutuhkan nitrogen organik (asam amino) untuk pertumbuhannya, dan bersifat anaerobik fakultatif. ( Robert, 2002 )
                              
          Gambar 2.8. Staphylococcus spp ( Prianto,2006 )
d.      Penyebab Penyakit
Anggota genus Staphylococcus sering menjajah kulit dan saluran pernapasan atas mamalia dan burung, seperti S. arlattae  (ayam, kambing), Auricularis s. ( rusa, anjing, manusia ), S. capitis ( manusia ). Staphylococcus dapat menyebabkan berbagai macam penyakit pada manusia dan hewan lainnya baik melalui produksi racun atau penetrasi. Racun staphylococcal adalah penyebab umum dari keracunan makanan, karena mereka dapat diproduksi oleh bakteri yang tumbuh di makanan benar-disimpan. Sialadenitis paling umum disebabkan oleh stafilokokus, seperti infeksi bakteri. ( Robert, 2002 )

7.      Cacing Strongyloides stercoralis Dewasa Betina
a.      Pengertian
Strongyloidiasis stercoralis adalah cacing yang hidup daerah hangat, daerah lembab. Cacing masuk ke dalam tubuh ketika seseorang menyentuh tanah yang terkontaminasi cacing. Cacing gelang muda dapat bergerak melalui kulit seseorang dan masuk ke dalam aliran darah ke paru-paru dan saluran udara. Ketika cacing bertambah tua, mereka mengubur diri dalam dinding usus. Kemudian, mereka menghasilkan telur dalam usus. ( Srisasi, 2006 )
b.      Morfologi
Cacing betina yang hidup sebagai parasit, dengan ukuran  2,20 x 0,04 mm, adalah seekor nematoda filariform yang kecil, tak berwarna, semi transparan dengan kutikulum yang bergaris halus. Cacing ini mempunyai ruang mulut dan oesophagus panjang, langsing dan silindris. Sepanjang uterus berisi sebaris telur yang berdinding tipis, jenih dan bersegmen. Cacing betina yang hidup bebas lebih kecil dari pada yang hidup sebagai parasit, menyerupai seekor nematoda rabditoid khas yang hidup bebas dan mempunyai sepasang alat reproduksi. Cacing jantan yang hidup bebas lebih kecil dari pada yang betina dan mempunyai ekor melingkar. ( William, 2003 )  
Cacing dewasa betina yang hidup sebagai parasit di virus duodenum, bentuknya filform, halus, tidak berwarna, dan panjangnya kira-kira 2 mm. Cara berkembang-biaknya dengan partenogenesis, telur bentuk parasitik diletakkan dimukosa usus kemudian telur menetas menjadi larva rabditiform yang masuk ke rongga usus dan dikeluarkan bersama tinja ( William, 2003 ) 
                                                 
          Gambar 2.1. Cacing Strongylides stercoralis Dewasa Betin
c.       Siklus  Hidup
Sesudah 2 – 3 hari di tanah, larva rabditiform berubah menjadi larva filariform, bila larva filariform menembus kulit manusia, larva tumbuh dan masuk ke dalam peredaran darah vena dan kemudian melalui jantung kanan sampai ke paru, dari paru parasit yang mulai menjadi dewasa menembus alveolus, masuk ke trakea dan laring. Sesudah sampai di laring reflek  batuk, sehingga parasit tertelan, kemudian sampai diusus halus bagian atas dan menjadi dewasa. ( William, 2003 )
d.      Distribusi Geografik
Distribusi geografik terutama terdapat di daerah tropik dan subtropik, sedangkan didaerah yang beriklim dingin jarang ditemukan.. Di Amerika Serikat hal ini terjadi di bagian selatan, di daerah luar kota.
e.       Gejala Klinis
Gejala yang paling khas adalah sakit perut, umumnya sakit pada ulu hati seperti gejala ulcus ventriculi, diare dan urticaria,  kadang-kadang timbul nausea, berat badan turun, lemah dan konstipasi. Timbulnya dermatitis yang sangat gatal karena gerakan larva menyebar dari arah dubur, dapat juga timbul peninggian kulit yang stationer yang hilang dalam 1-2 hari atau ruam yang menjalar dengan kecepatan beberapa sentimeter per jam pada tubuh. ( Guyton, 2006 )
f.       Cara-cara Penularan
Larva infektif (filaform) yang berkembang dalam tinja atau tanah lembab yang terkontaminasi oleh tinja, menembus kulit masuk ke dalam darah vena di bawah paru-paru. Di paru-paru larva menembus dinding kapiler masuk kedalam alveoli, bergerak naik menuju ke trachea kemudian mencapai epiglottis. Selanjutnya larva turun masuk kedalam saluran pencernaan mencapai bagian atas dari intestinum, disini cacing betina menjadi dewasa.
g.      Terapi dan Pencegahan
Thiabendazole, Albendazole, Simptomatik untuk  diare, dehidrasi atau gangguan elektrolit. Pencegahan : Pengobatan penderita, Mengatur pembuangan tinja, pembuatan latrin, Pendidikan tentang higiene kesehatan, Anjuran memakai alas kaki pada daerah endemis . ( Mitchel, 2000 )
8.      Cacing Oxyuris vermucalis Betina
a.      Morfologi
Cacing betina berukuran 8-13 x 0.4 mm. Pada ujung anterior ada pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing betina berbentuk gravid yang melebar dan penuh dengan telur. Cacing jantan berukuran 2-5 mm, juga mempunyai sayap dan ekornya melingkar sehingga bentuknya seperti tanda tanya. Cacing betina yang gravid mengandung 11.000-15.000 butir telur. Telur berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetris). Dinding telur bening dan agak lebih tebal dari dinding telur cacing tambang. ( Ganong, 2003 )
                                       
                   Gambar 2.5. Cacing Oxyuris vermivularis betina
b.      Siklus Hidup
Cacing dewasa betina mengandung banyak telur pada malam hari dan akan melakukan migrasi keluar melalui anus ke daerah perianal dan perinium. Di daerah perinium tersebut cacing-cacing ini bertelur dengan cara kontraksi uterus,kemudian telur melekat di daerah tersebut. Telur dapat menjadi larva infektif pada tempat tersebut, terutama pada temperatur optimal 23-26 ºC dalam waktu 6 jam. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari.  ( Diah, 2006 )
Infeksi cacing kremi terjadi bila menelan telur matang, atau bila larva dari telur yang menetas di daerah perianal bermigrasi kembali ke usus besar. Bila telur matang yang tertelan,telur menetas di duodenum dan larva rabditiform berubah dua kali sebelum menjadi dewasa di yeyunum dan bagian atas ileum. Infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri. ( Mitchel, 2000 )
c.       Distribusi Geografik
 Udara yang dingin, lembab dan ventilasi yang jelek merupakan kondisi yang baik bagi pertumbuhan telur. Habitat cacing dewasa biasanya di rongga sekum, usus besar dan di usus halus yang berdekatan dengan rongga sekum. Makanannya adalah isi dari usus.Manusia merupakan satu-satunya hospes definitif. E.vermicularis dan tidak diperlukan hospes perantara. ( Carpenito, 2007 )
d.      Gejala Klinis, Penularan dan Pencegahan
Kurang tidur, rewel , nafsu makan berkurang, berat badan menurun, rasa gatal atau iritasi vagina, kulit di sekitar anus menjadi lecet, kasar, atau terjadi infeksi . ( Carpenito, 2007 )
Cara penularan Enterobius vermicularis dapat melalui tiga jalan : Penularan dari tangan ke mulut penderita sendiri atau pada orang lain sesudah memegang benda yang tercemar telur infektif misalnya alas tempat tidur atau pakaian dalam penderita. Melalui pernafasan dengan menghisap udara yang tercemar telur yang infektif. Pengobatan Infeksi cacing kremi dapat disembuhkan melalui pemberian dosis tunggal obat anti-parasit mebendazole, albendazole atau pirantel pamoat.  Pencegahan dengan  mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar, memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku, mencuci seprei minimal 2 kali/minggu, membersihkan jamban setiap hari, menghindari penggarukan daerah anus karena mencemari jari-jari tangan dan setiap benda yang dipegang / disentuhnya. (Brown HW, 1994 ; Joklik WK et al, 1996)
9.      Cacing Necator americanus Dewasa
a.      Morfologi
Cacing betina berukuran panjang kurang lebih 1 cm, cacing jantan kurang lebih 0,8 cm. Setiap cacing betina dapat bertelur 9000 ekor per hari. Cacing dewasa jantan berukuran 8 sampai 11 mm. Sedangkan betina berukuran 10 sampai 13 mm. Bentuk badan Necator Americanus biasanya berbentuk silindris menyerupai huruf S berwarna putih keabuan. Necator Americanus mempunyai benda kitin, sedangkan pada Ancylostoma duodenale ada dua pasang gigi. Cacing jantan mempunyai kopulatriks.  ( Gandahusada, 1988).
                             
           Gambar 2.7. Cacing Necator americanus Dewasa
b.      Siklus Hidup
Cacing Tambang Cacing dewasa di dalam usus halus manusia, kemudian telur keluar bersama feses dan mengalami embrionisasi di tanah . Di tempat lembab dan becek, telur menetas menjadi larva yang disebut rhabditiform (tidak infektif). Kemudian larva ini berubah menjadi filariform (infektif) yang dapat menembus kulit kaki dan masuk ke dalam tubuh manusia mengikuti aliran darah, menuju jantung, paru - paru, faring, tenggorok, kemudian tertelan dan masuk ke dalam usus (migrasi paru, maturasi pada manusia lebih kurang 35 hari) . Di dalam usus, larva menjadi cacing dewasa yang siap menghisap darah kembali.
c.       Distribusi Geografik
Necator americanus dibawa dari Afrika dan kini tersebar sampai ke Amerika Serikat. Penyebaran parasit pada waktu ini disebabkan oleh migrasi penduduk dan meluas ke daerah tropik dan sub tropik. (Volk dan Wheeler, 1990; Kotpal, dkk. 1981)
d.      Gejala Klinis
Cacing tambang ini menyebabkan penyakit nekatoriasis dan ankilostomiasis, yang membuat penderita mengalami anemia berat, keletihan, menurunnya berat badan, rentan pada infeksi, dan diare berdarah, terjadi gatal-gatal. (Poespoprodjo, 1999).
10.  Telur Hymenolepis nana
a.      Morfologi
Telur  Hymenolepis nana berbentuk oval atau bulat dengan ukuran 47 x 37 mikron, memiliki dinding berupa dua lapis membrane yang melindungi embrio heksakan di dalamnya. Pada kedua kutub membrane sebelah dalam, terdapat dua buah penebalan dimana keluar 4-8 filamen halus. Adanya filamen inilah yang dapat membedakan telur Hymenolepis nana dari  Hymenolepis diminuta. ( Robert, 2002 )
Hymenolepis nana ukuran panjang 25 – 40 mm dan lebar 0,1 - 0,5 mm, dengan jumlah proglotidnya mencapai 200 buah. Scolex bulat dengan 4 batil isap seperti mangkok, memiliki rostelum yang pendek dan refraktil, berkait kecil dalam satu baris.                        
b.      Hospes
Hospes definitif dari cacing ini adalah manusia, mencit dan tikus.  ( Juni, 2006 )
c.       Siklus Hidup
 Cacing ini di dalam siklus hidupnya tidak memerlukan hospes perantara, kecuali Hymenolepis nana var. fraterna yang hospes alamiahnya adalah tikus dan menggunakan flea serta kumbang sebagai hospes perantaranya. Proglotid gravid Hymenolepis nana akan pecah didalam usus penderita dan mengeluarkan telur yang segera menjadi infektif bila dikeluarkan bersama feses penderita. Manusia tertular jika memakan telur cacing ini. Di dalam usus halus, telur akan menetas menjadi oncospher dan menembus villi usus halus serta akan kehilangan kaitnya. Selanjutnya dalam 4 hari kemudian akan menjadi larva cysticercoid. Larva ini terdapat pada tunica propria usus halus penderita. Beberapa hari kemudian larva ini akan kembali ke lumen usus penderita untuk menjadi dewasa dalam waktu 2 minggu. ( Neva A and Brown HW, 1994 )
d.      Distribusi Geografi
Daerah penyebaran Hymenolepis nana antara lain adalah  Mesir, Sudan, Thailand, India, Jepang, Amerika Selatan yaitu Brazilia dan Argentina, Eropa Selatan. (Manson-Bahr PEC and Bell DR, 1987)
e.       Patogenesa Dan Manifestasi Klinis
Autoinfeksi interna dapat menimbulkan gejala berupa kurangnya nafsu makan, penurunan berat badan, nyeri epigastrium, nyeri perut dengan atau tanpa diare yang disertai darah, mual, muntah, pusing, toxaemia, pruritus anal, uticaria serta gangguan syaraf misalnya irritabilitas, konvulsi dan kegelisahan. (Brown HW, 1994 ; Joklik WK, 1996; Maegra GT, 1984)
f.       Pengobatan
Sebagai obat pilihan dapat diberikan Niclosamide /Yomesan dengan dosis 2,0 gram. Praziquantel peroral dengan dosis tunggal 15 mg/kg barat badan diberikan setelah makan pagi. Pada manusia infeksi selalu disebabkan oleh telur yang tertelan dari benda yang terkontaminasi tanah, dari tempat-tempat defekasi atau langsung dari anus ke mulut. ( Juni, 2006 )
Untuk menekan dan menghindari infeksi cacing pita ini, perlu meningkatkan kebersihan lingkungan, kebersihan perorangan terutama pada keluarga besar, meningkatkan kesadaran dan higienes pada anak-anak, mengobati penderita sehingga tidak menjadi sumber penularan serta memberantas hospes reservoar sebagai sumber infeksi seperti tikus dan hewan pengerat lainnya. (Brown HW, 1994 )

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright GLORY SHINE 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .