RSS

Senin, 15 April 2013

CERPEN


AMANAT  DARI  BAPAK

Kicau burung merpati seolah bersorak menyambut hangat  Sang Surya yang nampak malu – malu. Embun pagi membasahi daun – daun  nan asri. Gemericik air sungai bagai harmoni nan syahdu. Angin yang berhembus menari – nari bersama padi yang menguning. Ku amati tiap sudut desaku yang masih nampak lengang.
Ku hela nafas sejenak. Ku pandang tiap sudut gubuk tuaku yang penuh kenangan bersama Bapak. Ku sandarkan tubuhku pada kursi reot kesayangan Bapak. Ku pejamkan mata dan mencoba menahan linangan air mata yang tak terbendung lagi. Semua kenangan bersama Bapak masih nampak jelas di benakku.
Dari jalan yang masih remang – remang, ku lihat dari jauh nampak seorang wanita paruh baya memakai mukena putih berjalan ke arahku dengan sedikit tertatih. Ku cium tangan Ibu dan ku sambut dengan peluk hangat.
“ Lho pagi – pagi kok sudah ngalamun, sudah sholat belum, Bayu ? ”
“ Ah tidak Bu, Alhamdulillah  sudah sholat 
“ Ya sudah, ayo masuk di luar udaranya sangat dingin ”
Ku berjalan mengikuti irama langah Ibu. Ku lihat adik – adikku sedang bermain – main dengan mimpinya. Setiap melihat ketiga adikku, Ganang, Fitri dan Setyo, aku selalu dihantui rasa bersalah karena tak bisa berbuat apa – apa untuk masa depan mereka. Ketiga adikku terancam putus sekolah karena Bapak yang menjadi tulang punggung keluarga sudah pergi menghadap Illahi tiga bulan yang lalu. Kini Ibu yang paruh baya mencari sesuap nasi untuk kami dari bekerja sebagai buruh tani yang hanya dibayar Rp. 10.000  tiap hari. Disisi lain,  aku harus mengubur dalam – dalam untuk melanjutkan perguruan tinggi di Jakarta setelah lulus dari SMA. Kini aku sudah bertekad untuk menggantikan Bapak menjadi tulang punggung keluarga. Akan tetapi, hingga saat ini aku belum juga  mendapatkan pekerjaan apapun.
“ Ayo Ganang, Fitri, Setyo bangun sudah pagi nanti kalian terlambat sekolah “
“ Oke Bos,  Mas Bayu nanti jadi ke sekolah buat ketemu Bapak Kepala Sekolah kan?”
“ Iya, Mas kan sudah berjanji kan kalian sendiri yang bilang kalau janji harus apa ? ”
“ Harus ditepati ! ” teriak ketiga adikku membuat Ibu tersenyum bahagia.
Setelah berpamitan dengan Ibu, aku dan ketiga adikku pergi bersama menuju Sekolah Dasar Negeri 03  Sido Mulyo yang jaraknya dua kilometer dari rumah. Sepanjang perjalanan kami bernyanyi dan menyapa para petani yang sedang sibuk menyiangi sawah mereka.
Setibanya di sekolah, dengan rasa harap – harap cemas dan ragu, aku melangkah memasuki ruang Kepala Sekolah. Mencoba menerka – nerka apa yang akan dibicarakan kepadaku. Meskipun mendapat sambutan yang dingin, tapi aku mencoba untuk tetap bersikap hangat.
“ Maaf, pasti Anda sudah tahu apa maksud dan tujuan saya mengundang Anda,   bukan ? “, kata beliau dengan tatapan tajam dan angkuh
“ Alhamdulillah saya sudah mengerti dan memahami maksud dan tujuan Bapak “
“ Baguslah, lalu bagaimana ? ”
“ Saya berjanji  akan segera melunasi tunggakan uang sekolah ketiga adik saya “
“ Baiklah, saya beri waktu satu minggu  untuk Anda “
“ Terima kasih atas kebaikan dan pengertian Bapak kepada keluarga kami “
“ Ya, kalau sudah  tolong tutup pintu dari luar “
Pembicaraan yang singkat dan dingin tadi membuatku sedikit lega karena ketiga adikku masih bisa melanjutkan sekolah mereka. Meskipun demikian, aku tak tak tahu apa yang terjadi pada ketiga adikku  jika minggu depan aku belum mendapat pekerjaan.
Ku hela nafas panjang. Ku gerakkan kepala dan berpaling dari langit. Ku pandang jalan kerikil yang belum selesai ku tempuh.
Aku menyeka keringatku yang mengalir deras di pelipis. Ku langkahkan kaki menuju pohon waru yang tidak jauh dari pos ronda. Pohon itu besar dan mulai rapuh namun dengan gagahnya siap untuk memberi perlindungan kepada siapa saja.
Aku duduk dan  bersandar pada kulit pohon waru yang kasar dan rapuh. Ku atur nafas untuk menikmati hembusan angin yang menenangkan hati dan pikiranku.
“ Ya Allah begitu banyak cobaan yang bertubi – tubi Kau berikan kepadaku, apa kini Kau memang ingin melihatku berjuang untuk mendapat derajat yang lebih tinggi ? Atau kini Kau sedang menunjukkan kekuasaan Mu dengan memberi cobaan yang begitu berat  kepadaku ? Atau  Kau memang sudah tidak perduli lagi kepadaku ? “
Ku pejamkan mata sejenak. Bayangan kenangan saat – saat terakhir bersama Bapak selalu muncul setiap aku memejamkan mata. Semua kenangan indah itu masih nampak jelas dan nyata. Bahkan suara nafas Bapak masih sering aku rasakan.
“ Astaghfirullah aku sudah melupakan amanat Bapak , aku harus segera pulang “
Dengan hati gelisah, aku berlari menyusuri pematang sawah yang becek.  Tak perduli lagi teguran para petani dan tingkungan tajam di setiap sudut desa yang rawan akan kecelakaan. Yang ada di benakku sekarang adalah aku harus menemukan surat yang dititipkan Bapak kepadaku ketika Bapak sedang sakit, sehari sebelum kematian menjemputnya.
“ Assalamu’alaikum, Ibu dimana? ”, teriakku sambil berlari menuju kamar Ibu
“ Wa’alaikumsalam Ibu di dapur, kenapa kamu berteriak – teriak ?  apa yang terjadi, Nak ? “
“ Ibu dimana surat dari Bapak yang dulu aku titipkan ke Ibu “
“ Surat apa ? Ibu tidak mengerti  bicaralah yang jelas,  Nak ? ”
“ Surat beramplop coklat yang dititipkan sehari sebelum Bapak meninggal, untuk disampaikan ke Pak Bejo “
“ Tapi, kamu mau apa dengan surat itu ? “
“ Aku sudah berjanji akan menyampaikan amanat Bapak, tapi aku baru ingat   sekarang “
“ Tapi, kamu yakin akan menyampaikan surat itu ? Dengan segala resiko yang akan  kamu tanggung ? “
“ Insya Allah Bayu  sudah siap dan ikhlas, Bu “
“ Baiklah tunggu sebentar, Ibu akan ambikan surat itu “
Ku atur nafas untuk menata detak jantungku yang berpacu lebih cepat. Ku gerakkan kakiku menuju bilik ruang tamu dan berharap Ibu cepat menemukan surat itu.
“ Ini Nak, tapi kamu yakin  mau menyampaikan amanat ini ? ”
“ Aku yakin karena Ibu tahukan amanat itu harus disampaikan, karena aku takut Bapak tidak akan tenang jika aku belum menyampaikan surat ini “
“ Tapi kamu tidak tahu isi surat ini kan ? Bisa saja isinya sesuatu yang akan merugikan atau bahkan bisa mencelakakan kamu “
“ Ibu hidup, mati, rezeki, jodoh semua sudah diatur oleh Allah, aku yakin isi surat ini sangat penting dan berharga bagi Bapak, dan aku percaya Bapak tidak akan mencelakakan anaknya sendiri “, kataku lirih sambil memegang tangan Ibu yang penuh dengan kerutan.
“ Ibu mengerti, tapi kamu tidak tahu siapa Pak Bejo itu, kan? “
“ Iya, aku memang tidak pernah tahu Pak Bejo yang dimaksud Bapak, apakah Ibu mengetahuinya ? “
“ Pak Bejo itu adalah sahabat karib  Bapakmu, tapi dia tiba – tiba berubah dan menjadi orang yang  sering berbuat jahat kepada keluarga kita. Ia sering memfitnah Bapakmu, bahkan Ia hampir membakar rumah kita karena Bapakmu terpilih menjadi kepala desa. Tapi akhirnya Bapakmu memutuskan untuk pergi dari desa seberang dan membangun kehidupan yang baru di desa yang damai ini “, kata Ibu dengan suara parau
“ Tapi mengapa Bapak menginginkan aku untuk menyampaikan surat ini ? “
“ Ibu tidak mengerti apa maksud Bapakmu, tapi jika kamu masih sayang Ibu dan ketiga adikmu, Ibu harap urungkan niatmu, Nak “, kata Ibu sambil meninggalkanku di bilik ruang tamu.
Terdiamku dalam lamunan. Semua yang ku dengar dari Ibu semakin menguatkan niatku untuk bisa menemukan Pak Bejo dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Sebuah teka- teki penuh misteri yang harus ku ungkap. Apapun yang terjadi aku harus segera menemukan Pak Bejo bahkan nyawa sekalipun akan aku pertaruhkan, pikirku.
Ku langkahkan kaki menuju kamar Ibu yang terletak di sebelah dapur. Kamar berdinding bambu dan  berukuran dua kali dua meter ini nampak gelap dan lembab karena tidak ada  satupun jendela dan lampu yang menghiasi kamar Ibu.
Ku lihat Ibu nampak murung dengan wajah pucat, dengan air mata yang masih berlinang di pipinya yang sudang penuh dengan kerutan. Ibu menatapku dengan tatapan kosong dan senyum yang berbeda dari sebelumnya. Ibu berusaha menutupi wajahnya yang bersedih dengan kerudung biru yang sudah lusuh dan penuh dengan tambal sulam kain perca.
“ Ibu kenapa menangis ? “, tanyaku sambil mengusap rambut Ibu yang penuh    dengan uban
“ Ibu hanya sedih karena Bapakmu meninggalkan amanat yang tidak seharusnya diberikan kepada kamu “
  Aku yakin ini semua pasti sudah difikirkan Bapak matang – matang, Ibu tidak usah khawatir, insya Allah aku  bisa menjalankan amanat Bapak “
“ Tapi Ibu tidak rela kamu pergi ke rumah Pak Bejo, kamu tahu Ibu sangat membenci dia, Ibu sudah berjanji tidak akan pernah memaafkan dia bahkan Ibu tidak sudi berhubungan dengan orang yang namanya Bejo “, kata Ibu sembil menangis
“ Tapi tekadku sudah bulat, apapun yang terjadi aku akan menemui Pak Bejo, bahkan aku sudah berjanji mempertaruhkan nyawaku sekalipun “
“ Apa ? Kamu rela membantah Ibu dan kamu justru mempertaruhkan  nyawamu hanya untuk bertemu orang yang dulu sering  menyakiti Bapak dan Ibumu ? “, kata Ibu dengan nada tinggi
“ Maaf Bu, bukan maksudku untuk membantah Ibu, tapi aku hanya ingin menyampaikan amanat Bapak dan mencari tahu akar dari permasalahan keluarga kita dengan Pak Bejo “, kataku dengan tegas
“ Untuk apa kamu mencari tahu masalah ini ? Bukankah Ibu sudah menjelaskan bahwa Pak Bejo adalah orang yang sering melakukan kejahatan terhadap keluarga kita ? Apa kamu sudah tidak mempercayai Ibu ? Apa kamu sudah lupa siapa yang telah melahirkan dan membesarkanmu ? Mengapa kamu membentak Ibu hanya karena ingin megetahui siapa Pak Bejo itu ? “, kata Ibu dengan suara lantang
“ Maafkan aku Bu, bukan maksudku berbuat seperti itu, harus berapa kali ku katakan kepada Ibu bahwa aku hanya ingin menyampaikan amanat Bapak dan menyelesaikan masalah keluarga kita dengan Pak Bejo sudah itu saja, tidak lebih “, kataku sambil menggenggam tangan Ibu yang mulai dingin
“ Terserah apa mau mu, kalau kamu memang ingin melakukan ini terserah, Ibu sudah tidak perduli lagi meskipun Ibu sudah memohon dan berlutut sekalipun pasti kamu akan tetap melakukan hal ini karena kamu anak yang keras kepala, Ibu sudah lelah, sekarang terserah apa maumu “, kata Ibu sambil melepas tanganku dan mengalihkan pandangan dariku
“ Aku tahu ini pasti berat dan menyakiti Ibu, maaf jika aku telah membuka luka lama di  hati Ibu, tapi aku janji aku akan menyelesaikan masalah keluarga kita secepatnya, aku mohon  restui aku, Bu “, kataku dengan meneteskan air mata
“ Tapi ingat jangan pernah menyesal atas keputusan yang telah kamu pilih “, kata Ibu dengan nada tinggi
“ Iya Bu, itu pasti “, kataku dengan tegas sambil menutup pintu kamar Ibu
Ku hela nafas panjang. Ku langkahkan kaki menuju kamarku. Kamar berukuran dua kali dua meter dan berdinding bambu ini dipenuhi oleh dua rak buku yang mulai rapuh. Tikar tambal sulam yang menjadi alas tidur kini mulai hancur dimakan rayap. Berbeda dengan kamar Ibu, kamarku nampak terang dan tidak lembab karena terdapat dua buah jendela dan bolam lima watt yang menghiasi kamarku.
Ku rebahkan tubuhku di atas tikar dan ku ambil amplop coklat  berisi surat amanat Bapak. Tiba – tiba muncul hasratku untuk membaca surat itu, surat yang penuh teka – teki dan membuat luka di hati Ibuku membuka kembali. Namun ku urungkan niatku kembali, karena aku tahu Bapak pasti tidak suka aku melanggar janjiku untuk tidak melihat isi surat itu sebelum Pak Bejo membacanya.
 “ Apa maksud Bapak menyuruhku untuk memberikan surat ini kepada Pak Bejo ? Kenapa harus aku ? kenapa Ibu begitu jijik dan tidak suka mendengar nama Pak Bejo ? Apa yang telah dilakukannya hingga Ibu tidak bisa memaafkanya ? Padahal Ibu orang yang sangat pemaaf, Mengapa Pak Bejo berlaku kejam kepada keluargaku ? Siapa yang benar dan siapa yang salah ? “
“ Ya, aku harus mengungkapkan masalah ini, aku harus menemukan Pak Bejo dan membawanya ke hadapan Ibu dan menyuruhnya untuk meminta maaf kepada Ibu, Ya aku pasti bisa menemukannya! Pasti bisa ! “

                                                      ******

Sinar Sang Fajar telah menyusup di sela – sela gubukku yang reot. Kicau burung merpati dan kokok ayam yang saling beradu telah menyadarkanku dari indahnya bunga tidur.
“ Ya aku siap untuk pengembaraanku kali ini , Pak Bejo bersiaplah untuk menyambut kedatanganku “,  kataku sambil mengambil tas kecil yang berisi bekal dan surat amanat Bapak yang telah aku siapkan tadi malam.
Ku langkahkan kaki menuju dapur yang menjadi tempat favorit Ibu setiap pagi. Namun kali ini Ibu nampak absen dari jadwalnya di dapur. Ku coba untuk mencarinya di kamar, namun tak ku dapatkan lagi sosok Ibu di sana. “ Dimana Ibu, atau jangan – jagan ? Ah, tidak mungkin Ibu melakukan ini “, kataku dalam hati.  Ku berlari – lari kecil menuju bilik rumah. “ Ah, akhirnya ku dapatkan Ibu juga, syukurlah “, kataku lirih.
Ku lihat Ibu sedang menjahit bajunya yang sudah sobek sambil menemani  ketiga adikku yang sedang asyik bermain dengan kucing kami, Selamet dan Siti. Disisi lain, Ibu dengan guratan wajah sedih dan mata sembab yang tidak bisa dielakkan lagi Ibu pasti baru saja menangis, mencoba tersenyum ketika adikku, Fitri berebut roti  dengan Ganang. Dan tak bisa dipungkiri penyebabnya adalah aku. Ya, aku yang telah membuat luka lama di hati Ibu menjadi terbuka lagi.
“ Mas Bayu kenapa hanya berdiam diri di situ ? Ayo kesini bermain bersama kami “, kata adikku, Fitri
“ Iya, Mas hanya tidak mau mengganggu kalian bermain, ayo lanjutkan bermainnya “
“ Loh Mas Bayu mau kemana ? Kok bawa tas ransel dan berpakaian rapi tidak seperti biasanya ? “, Kata Ganang sambil menarik tanganku
“ Mas hanya ingin pergi sebentar saja, tidak lama kok “
“ Kita boleh ikut ? “
“ Ternyata kamu memang keras kepala dan sudah tidak percaya lagi kepada Ibu “, kata Ibu dengan tatapan tajam
“ Maaf Ibu, tekadku sudah bulat dan aku yakin aku bisa menyelesaikan ini semua “, kataku sambil berlutut di hadapan Ibu
“ kamu sudah tidak menganggap aku ini Ibumu, kamu egois, apa kamu tidak memikirkan hal buruk yang bisa datang kepadamu tanpa kamu sadari nasibmu akan seperti Bapakmu ? ”, kata Ibu sambil menangis
“ Ibu aku mohon restui aku, hargailah pengorbananku ini semua aku lakukakan untuk Ibu, hanya untuk Ibu “,
“ Tidak, ini semua kamu lakukan hanya untuk memenuhi hasrat ingin tahumu yang tinggi, kan ?”,
“ Iya Bu, tapi niatku tulus dan aku janji akan segera menyelesaikan ini semua “
“ Kamu tahu, Ibu sangat menyayangimu meskipun tindakanmu ini sangat membuat hati Ibu sakit, tapi Ibu sudah memaafkanmu dan Ibu akan selalu berdo’a untuk keselamatanmu, pergilah dan ungkapkan semua kebenaran yang telah terkubur selama dua puluh tahun “, kata Ibu sambil memelukku
“ Terima kasih Ibu, aku janji akan segera pulang dan membawa kabar baik untuk Ibu”, kataku sambil mencium kaki Ibu
“ Mas meskipun kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kami yakin tindakan yang mas lakukan pasti demi kebaikan kami semua meskipun beresiko, kami hanya bisa mendo’akan Mas “, kata Ganang sambil memelukku
“ Hati – hati Mas, do’a kita akan selalu menyertai di setiap langkah, Mas “, kata Setyo dan Fitri yang menyusul memelukku
“ Mas janji akan segera pulang, jaga Ibu baik – baik ya, apapun yang terjadi nantinya kalian harus tetap sekolah dan menjadi orang yang tinggi derajatnya baik di mata Allah dan semua orang “, kataku sambil mencium pipi ketiga adikku
Tangis haru, senyum manis dan do’a dari Ibu dan ketiga adikku mengiri kepergianku untuk menemui Pak bejo. Langkahku semakin mantap dan ringan bak melayang di hamparan langit yang luas tanpa beban, yang ada hanya keyakinan dan semangat yang membara dalam jiwa. Berbekal alamat surat dan denah rumah Pak Bejo yang ku dapat dari Bapak, aku memutuskan untuk pergi ke desa seberang menggunakan sampan yang menjadi satu – satunya alat transportasi yang menghubungkan desaku dan desa Pati Anom, desa tempat Pak Bejo dan keluarganya tinggal.
Meskipun jarak antara Desa Mukti Mulyo dan Desa Pati Anom hanya berjarak dua kilometer, namun aku harus mengantri untuk mendapat giliran menaiki sampan yang jumlahnya hanya dua sedangkan penumpangnya mencapai lebih dari empat puluh. Sampan yang digunakanpun sudah tidak layak, namun masyarakat lebih memilih untuk menaiki sampan dari pada melewati jalur darat, selain karena jaraknya bertambah jauh biaya yang dikeluarkan untuk sampai ke Desa Pati Anom bisa mencapai Rp. 50.000; untuk satu kali perjalanan.
Ku gerakkan kaki menuju sampan. Dengan hati yang mulai bimbang, aku mencoba menepis semua kegelisahan yang tiba – tiba muncul di benakku. Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam dan melamun. Tak perduli lagi keadaan sekitar yang penuh dengan orang – orang yang saling berdesakan, bau keringat dan  bau ikan asin bercampur menjadi satu dan membuat siapa saja menjadi mual. Namun, aku hanya memikirkan cara untuk menemukan Pak Bejo yang tidak pernah aku temui sebelumnya.
Aku mencoba mencari tahu sedikitnya informasi tentang Pak Bejo dari salah satu penumpang yang berdiri tepat di sebelahku. Bapak yang kira – kira berusia empat puluh tahun ini, memakai baju biru yang lusuh sambil membawa hasil panennya, jagung. Dengan caping di atas kepala yang menutupi sebagian wajahnya Bapak itu berusaha tersenyum kepadaku.
“ Maaf Pak, apa Bapak ini masyarakat dari Desa Pati Anom “
“ Iya benar, ada yang bisa saya bantu ? “, kata Bapak itu sambil melepas capingnya
“ Apa Bapak kenal dengan Pak Bejo yang dulu pernah menjadi Kepala Desa ? “
“ Pak Bejo ? Ada hubungan apa kamu dengan dia ? “
“ Saya adalah anak dari sahabatnya Pak Bejo, almarhum Bapak saya meminta saya untuk menemui Pak Bejo, apa Bapak tahu dimana Pak Bejo tinggal ? “
“ Bagaimana ya ? Tapi apa kamu benar – benar yakin ingin bertemu dengan orang sejahat dan sekejam Bejo ? Apa kamu mau mengantarkan nyawamu ke kandang  buaya ? “
“ Maaf maksud Bapak apa ini ?  Saya tidak mengerti apa yang sedang Bapak bicarakan “, kataku dengan nada heran
“ Pak Bejo itu adalah orang terkaya di Desa Pati Anom, tapi dia sangat kejam, jahat, gila harta, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan, orang yang berani menantang  pasti akan dia bunuh, tapi itu dulu “
“ He? Maksud Bapak apa ini ? saya semakin tidak mengerti “
“ Maksudku dulu dia memang jahat, tapi karena anak perempuan kesayangannya meninggal karena bunuh diri, sekarang Pak Bejo menjadi orang yang baik “, kata Bapak itu sambil nyengir memperlihatkan giginya yang ompong
“ Oh, syukurlah kalau begitu , maaf apa Bapak bersedia untuk mengantarkan saya ke rumah Pak Bejo ? “
“ Baiklah, kebetulan rumah saya dekat dengan rumah Pak Bejo “
“ Terima kasih banyak, Pak “, kataku sambil menjabat tangan Bapak itu
Perjalananku kini terasa lebih mudah, tak pernah ku bayangkan jika cepat sekali aku akan bertemu Pak Bejo. Sungguh ini adalah rahmat dari Allah, pikirku.
Setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam. Perjalanan  yang sangat terasa lama dan melelahkan karena harus berdesak – desakan dan berusaha menjaga keseimbangan sampan agar tidak jatuh ke sungai.
Ku hembuskan nafas. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah kelahiranku,  Bapak dan Ibuku. Desa yang menyimpan sejuta teka – teki dan misteri kehidupan antara Bapak, Ibu dan Pak Bejo akan segera ku ungkap.
Desa yang penuh dengan jagung dan ketela pohon yang menghiasi tiap sudut desa ini menambah keasrian Desa yang ramai ini. Desa Pati Anom terkenal akan gadis – gadisnya yang cantik dan sangat menjunjung tradisi. Disisi lain,  kehidupan masyrakatnya nampak lebih maju dan menjamin jika dibandingkan dengan Desa Mukti  Mulyo, tempat tinggalku.
“ Mas maaf saya tidak bisa mengantar sampai ke dalam rumahnya karena saya harus segera menjual hasil panen saya “
“ Iya Pak, tidak apa – apa saya mengerti “
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya kami sampai di depan rumah Pak Bejo. Rumah yang besar dan penuh dengan bunga melati menghiasi tiap sudut rumahnya. Rumah yang tampak sepi dan lengang membuat halaman rumah Pak Bejo penuh dengan ayam kampung milik para warga. Disisi lain, lantai dan dinding rumah yang kotor dan mulai rapuh membuat rumah ini nampak angker dari kejauhan.
“ Assalamu’alaikum “, kataku sambil mengetuk rumah Pak Bejo
Ku ulangi salam hingga lima kali namun tak ada jawaban juga. Aku sempat gelisah, namun ku coba untuk tetap tenang dan sabar. Mungkin Pak Bejo tertidur atau  sedang di dapur jadi mungkin dia tidak mendengar salam yang sudah berulang kali ku ucapkan dengan suara melengking yang ku punya, pikirku.
“ Wa’alaikum salam, maaf sebentar “, kata laki – laki paruh baya dengan suara parau sambil membukakan pintu
“ Permisi apa benar ini rumahnya Pak Bejo “, kataku sambil menyalaminya
“ Benar, kamu siapa ? Mari masuk “
“ Saya Bayu dari Desa Mukti Mulyo “, kataku sambil mengikuti langkah Pak Bejo menuju bilik ruang tamu
“Tapi, saya tidak pernah mengenalmu bahkan melihatmu akupun tak pernah “, kata Pak Bejo dengan wajah keheranan
“ Saya adalah Bayu, anak dari Pak Budi dan Bu Aminah “
“ Maaf bisa jelaskan kepada saya lebih jelas lagi, karena saya sudah tua jadi sedikit pikun “, kata Pak Bejo sambil menggaruk kepalanya yang penuh dengan uban
“ Pak Budi adalah sahabat Pak Bejo ketika beliau masih tinggal di desa ini kata Ibu, dulu Anda dan Bapak saya telah bersahabat sejak lama namun tiba – tiba ...”
“ Namun tiba – tiba apa ? “, kata Pak Bejo sambil mengkerutkan kening
“ E..maaf saya tidak bisa melanjutkan ceritanya, intinya dulu Anda dan Bapak saya sudah bersahabat sejak lama, sebelum Bapak meninggal beliau mengutus saya untuk menyampaikan surat amanat kepada Pak Bejo “
“ Tunggu, jadi kamu anak Budi dan Aminah yang dulu sering aku fitnah ? sering aku curangi ? Perlu kamu ketahui aku dulu sering berbuat jahat kepada Bapakmu, lalu apa maumu sekarang ? Apa kamu diutus Bapakmu untuk membalaskan dendamnya ? Picik sekali pikiran Bapakmu “
“ Maaf Anda sudah salah sangka kepada Bapak saya, Bapak saya adalah orang yang paling baik, beliau justru mengutus saya untuk menyampaikan surat ini, bukan untuk membalaskan dendamnya “, kataku sambil memberikan surat itu
“ Apa ini ? “
“ Saya tidak tahu itu apa, karena Bapak melarang saya untuk melihat isinya sebelum Anda yang membacanya “
Ku lihat Pak Bejo memulai membaca surat itu. Meskipun kini aku sudah lega, namun aku menjadi cemas melihat Pak Bejo yang mengeluarkan keringat dingin dari tubuhnya. Ku amati beliau yang membaca surat itu dengan penuh konsentrasi dan berlinangan air mata. Sungguh aku menjadi semakin penasaran. Aku ingin sekali mengetahui isi surat itu, tapi apa daya aku tak mampu untuk melakukannya. Semakin lama, raut muka Pak Bejo menjadi berubah 180 derajat, beliau berlinangan air mata dan emosinya semakin tidak terkontrol.
“ Maaf apa yang terjadi pada Anda ? Apa yang telah dikatakan Bapak kepada Anda ? Apakah isinya telah menyakiti Anda ? “, kataku sambil menatap Pak Bejo
“ Tidak, tidak apa – apa “, kata Pak Bejo sambil meletakkan surat itu di atas meja
“ Lalu ? Apa isinya “
“ Apa kamu sudah siap untuk mendengar sesuatu yang akan membuatmu terkejut bahkan kecewa ? “
“ Ya, saya sudah siap mendengar ini semua apapun yang terjadi saya yakin ini semua sudah diatur oleh Allah “, kataku dengan tegas
Seketika suasana menjadi hening. Pak Bejo menjadi diam seribu bahasa. Beliau hanya membolak – balikkan surat itu, sambil sesekali menatapku dengan tatapan yang aneh. Disisi lain, aku menjadi semakin bingung dan tak tahu apa yang harus ku katakan untuk memecahkan keheningan ini.
Tiba – tiba Pak Bejo berlutut didapanku sambil menangis haru . Suatu pemandangn yang aneh dan membingungkan. Akupun hanya bisa terdiam karena terkejut akan sikap Pak Bejo saat itu.
“ Maafkan Bapak, Nak , maaf kan Bapakmu yang hina karena  telah  menelantarkanmu ”
“ Maksud Anda apa ? Katakan dengan jelas, aku tidak mengerti “, kataku sambil mencoba membangunkan Pak Bejo yang hampir sujud di kakiku
“ Kamu adalah anakku, anak kandungku, benih yang telah aku tanamkan di rahim Ibumu kini tlah berdiri di hadapanku “
“ Apa maksud Anda ? Ini semua bohongkan ? Anda pasti sedang bergurau kan ? “
“ Tidak, aku tidak sedang bergurau, ini benar dan ini nyata, Nak “, kata Pak Bejo dengan nada tinggi
“ Tidak aku tidak percaya dengan Anda ! Bapakku hanyalah Pak Budi bukan Anda atau siapapun, aku tidak kenal Anda ! Yang aku tahu Anda adalah orang yang telah menyakiti hati Bapak dan Ibuku, dulu Anda sering membuat hidup mereka menjadi buruk, kan ? “, kataku sambil melepas tangannya dan memalingkan muka
“ Iya, itu benar dulu aku sering berbuat kejahatan kepada mereka. Tapi kamu tahu, aku melakukan ini semua karena aku sangat mencintai Ibumu, tapi Ibumu lebih memilih Budi, dan cintaku kepada Ibumu yang telah membutakan mata hatiku, maafkan aku, maaf “,
“ Anda harusnya meminta maaf kepada Bapak dan Ibuku bukan kepadaku, karena aku bukan siapa – siapa Anda, bagiku Anda adalah orang asing yang dulu pernah menjadi benalu dalam hidup keluargaku, itu saja tidak lebih “, kataku sambil  menitihkan air mata
“ Tapi aku adalah benar – benar Bapakmu, tolong percayalah kepadaku, lihatlah mataku apa aku berbohong ? “, kata Pak Bejo sambil memegang wajahku
“ Sekalipun Anda memaksaku aku tidak akan pernah percaya, bagiku Bapakku adalah Pak Budi yang kini telah menghadap Illahi, jika Anda tetap bersikeras  maaf aku tidak perduli, tujuanku datang kemari adalah untuk menyampaikan amanat Bapak tidak lebih “, kataku sambil menyingkirkan tangan Pak Bejo dari wajahku
“ Nak percayalah Bapak adalah Bapakmu, harus berapa kali ku katakan, tapi apa daya kamu benar aku hanya orang asing yang dulu menjadi benalu di kehidupan kelurgamu, Budi telah menjadi Bapakmu selama dua puluh tahun, tak bisa dipungkiri ini pasti sangat berat bagimu untuk mempercayai bahwa aku adalah Bapak kandungmu, tapi percayalah ini benar karena kamu tahu Bapakmu telah menyampaikan semuanya di surat itu, dan dia juga mengatakan bahwa  aku harus merawat kamu, Ibumu dan ketiga adikmu    itu saja tidak lebih, dan perlu kamu ketahui jika hubungan darah tidak dapat diputuskan oleh apapun dan siapapun, aku ini tetap Bapakmu, Bapak kandungmu  “, ujarnya.


                                                            ******











TUGAS BAHASA INDONESIA
CERPEN
 AMANAT DARI BAPAK

Oleh :
Ida Mahfiroh / 12

Kelas : XII IA 5



SMA NEGERI 2 SEMARANG
Tahun Ajaran 2011 / 2012

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright GLORY SHINE 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .