RSS

Senin, 15 April 2013

MATERI ORGAN REPRODUKSI MANUSIA


BIOLOGY REPORT
REPRODUCTION SYSTEM OF HUMAN
AND
MENSTRUATION CYCLE



ORGAN REPRODUKSI MANUSIA
Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang baru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan melestarikan jenis agar tidak punah. Pada manausia untuk mengahasilkanketuruna yang baru diawali dengan peristiwa fertilisasi. Sehingga dengan demikian reproduksi pada manusia dilalkukan dengan cara generative atau sexual.
Untuk dapat mengetahui reproduksi pada manusia , maka harus mengetahui terlebih dahulu organ-organ  kelamin yang terlibat serta proses yang berlangsung di dalamnya.
a.         PRIA
Dibedakan menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam.
Organ reproduksi dalam terdiri dari :
1.      Testis
Testis merupakan kelenjar kelamin yang berjumlah sepasang dan akan menghasilkan sel-sel sperma serta hormone testosterone. Dalam testis banyak terdapat saluran halus yang disebut tubulus seminiferus.
2.      Saluran Reproduksi
a.       Epididimis merupakan saluran panjang yang berkelok yang keluar dai testis. Berfungsi untuk menyimpan sperma sementara dan mematanagkan sperma.
b.      Vas deferens merupakan saluran panjang dan lurus yang mengarah ke atas dan berujung di kelenjar prostat. Berfungsi untuk mengangkut sperma menuju vesikula seminalis.
c.       Saluran ejakulasi merupakan saluran yang pendek dana menghubungkan vesikula seminalis dengan urethra.
d.      Urethra merupakan saluran panjang terusan dari saluran ejakulasi dan terdapat di penis.
3.        Kelenjar pada organ reproduksi pria
1.      Vesikula seminalis merupakan tempat untuk menampung sperma sehingga disebut dengan kantung semen, berjumlah sepasang. Menghasilkan getah berwarna kekukingan yang kaya akan nutrisi bagi sperma dan bersifat alkali.Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran reproduksi wanita.  
2.      Kelenjar Prostat merupakan kelenjar yang terbesar dan menghasilkan getah putih yang  bersifat asam.
3.      Kelenjar Cowper’s/Cowpery/Bulbourethra merupakana kelenjar yang menghasilkan getah berupa lender yang bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran urethra.

Organ reproduksi  luar terdiri dari :
1.      Penis merupakan organ kopulasi yaitu hubungan antara alat kelamin jantan dan betina untuk memindahkan semen ke dalam organ reproduksi betina. Penis diselimuti oleh selaput tipis yang nantinya akan dioperasi pada saat dikhitan/sunat.
2.      Scrotum merupakan selaput pembungkus testis yang merupakan pelindung testis serta mengatur suhu yang sesuai bagi spermatozoa.

GAMETOGENESIS

Merupakan peristiwa pembentukan sel gamet, baik gamet jantan/sel spermatozoa (spermatogenesis) dan juga gamet betina/sel ovum.

a.                   Spermatogenesis
merupakan proses pembentukan sel spermatozoa. Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis. Pada tubulus seminiferus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium, sel Sertoli yang berfungsi memberi makan spermatozoa juga sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus yang berfungsi menghasilkan testosteron. Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon.
Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon perangsang folikel (Folicle Stimulating Hormone/FSH) dan hormon lutein (Luteinizing Hormone/LH). LH merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas,androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder. FSH merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2 hari.
Proses Spermatogenesis : Spermatogonium berkembang menjadi sel spermatosit primer. Sel spermatosit primer bermiosis menghasilkan spermatosit sekunder, spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan spermatid, spermatid berdiferensiasi menjadi spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP testosteron (Androgen Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar menghentikan sekresi FSH dan LH.
Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 – 400 juta sel spermatozoa.

Dipengaruhi oleh beberapa hormone yaitu :
1.      Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pembentukan sperma secara langsung. Serta merangsang sel sertoli untuk meghasilkan ABP  (Androgen Binding Protein) untuk memacu spermatogonium untuk melakukan spermatogenesis. 
2.      Hormon LH yang berfungsi merangsang sel Leydig untuk memperoleh sekresi testosterone (yaitu suatu hormone sex yang penting untuk perkembangan sperma).
Berlangsung selama 74 hari sampai terbentuknya sperma yang fungsional. Sperma ini dapat dihasilkan sepanjang usia. Sehingga tidak ada batasan waktu, kecuali bila terjadi suatu kelainan yang menghambat penghasilan sperma pada pria.




Bagan/skema spermatogenesis
Sel spermatogonium (2n) 








 
Mitosis
    Spermatosit primer
                                                                        Meiosis I
                         Spermatosit sekunder             Spermatosit sekunder
 

                                                                                                                           Meiosis II
                        Spermatid        Spermatid                    Spermatid        Spermatid


Sperma (n)        Sperma (n)                Sperma (n)           Sperma (n)
b.     WANITA
Dibedakana menjasi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam.

Organ reproduksi luar terdiri dari  :
1.      Lubang Vagina merupakan saluran yang menghubungkan organ uterusdengan tubuh bagian luar. Berfungsi sebagai organ kopulasi dan saluran persalinan dan keluarnya bayi. Sehingga sering disebut dengan liang peranakan. Di dalam vagina ditemukan selaput dara.
2.      Vulva merupakan suatu celah yang terdapat dibagian luar dan terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
           ü   Labium mayor merupakan sepasang bibir besar yang terletak dibagian luas dan membatasi vulva.
           ü   Labium minor merupakan sepasang bibir kecil yang terletak d bagian dalam dan membatasi vulva
3.      Klitoris merupakan tonjolan kecil yangt erletak di depan vulva. Sering disebut dengan klentit.
4.      Lubang saluran kencing
5.      Fundus: bagian lipat paha

Organ reproduksi dalam terdiri dari :
1.      Ovarium merupakan organ utama pada wanita. Berjumlah sepasang dan terletak di dalam tongga perut pada daerah pinggang sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk menghasilkan sel ovum dan hormone wanita seperti :
          ü   Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita, serta juga membantu dalam prosers pematangan sel ovum.
          ü   Progesterone yang berfungsi dalam memelihata masa kehamilan.
2.      Fimbriae merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang yang dikelurakan oleh ovarium.
3.      Infundibulum merupakan bagian ujung oviduct yang berbentuk corong/membesar  dan berdekatan dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh fimbriae.
4.      Tuba fallopi merupakan saluran memanjang setelah infundibulum yang bertugas sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan abantuan silia pada dindingnya.
5.      Oviduct merupakan saluran panjang kelanjutandari tuba fallopi. Berfungsi sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus denga bantuana silia pada dindingnya.
6.      Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk sperti buah pir dengan bagian bawah  yang mengecil. Berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio. Tipe uterus pada manusia adalah simpleks yaitu dengan satu ruangan yang hanya untuk satu janin. Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu :
          ü   Perimetrium yaitu lapisanyang terluar yang berfungsi sebagai pelindung uterus.
          ü   Miometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi dan relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap bulannya.
          ü   Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah. Bila tidak terjadi pembuahanmaka dinding endometrium inilah yang akan meluruh bersamaan dengan sel ovum matang.
7.      Cervix merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.
8.      Saluran vagina merupakan saluran lanjutan dari cervic dan sampai pada vagina.

Gambar Uterus

uterus     uterus



GAMETOGENESIS
b.             Oogenesis merupakan proses pembentukan dan perkembangan sel ovum.
Di dalam ovarium janin sudah terkandung sel pemula atau oogonium. Oogonium akan berkembang menjadi oosit primer. Saat bayi dilahirkan oosit primer dalam fase profase pada pembelahan meiosis. Oosit primer kemudian mengalami masa istirahat hingga masa pubertas. Pada masa pubertas terjadilah oogenesis. Oosit primer membelah secara meiosis, menghasilkan 2 sel yang berbeda ukurannya. Sel yang lebih kecil, yaitu badan polar pertama membelah lebih lambat, membentuk 2 badan polar. Sel yang lebih besar yaitu oosit sekunder, melakukan pembelahan meiosis kedua yang menghasilkan ovum tunggal dan badan polar kedua. Ovum berukuran lebih besar dari badan polar kedua. Pengaruh Hormon dalam Oogenesis. Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon FSH yang merangsang pertumbuhan sel-sel folikel di sekeliling ovum. Ovum yang matang diselubungi oleh sel-sel folikel yang disebut Folikel Graaf, Folikel Graaf menghasilkan hormon estrogen. Hormon estrogen merangsang kelenjar hipofisisuntuk mensekresikan hormon LH, hormon LH merangsang terjadinya ovulasi. Selanjutnya folikel yang sudah kosong dirangsang oleh LH untuk menjadi badan kuning atau korpus luteum. Korpus luteum kemudian menghasilkan hormon progresteron yang berfungsi menghambat sekresi DSH dan LH. Kemudian korpus luteum mengecil dan hilang, sehingga aklurnya tidak membentuk progesteron lagi, akibatnya FSH mulai terbentuk kembali, proses oogenesis mulai kembali.  Proses  oogenensis dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu :
1.           Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel sekitar sel ovum.
2.           Hormon Estrogen yang berfungsi merangsang sekresi hormone LH.
3.           Hormon LH yang berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pematangan sel ovum).
4.           Hormon progesteron yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH dan LH

Selama 28 hari sekali sel ovum dikeluarkan oleh ovarium. Sel telur ini telah matang (mengalami peristiwa ovulasi). Selama hidupnya seorang wanita hanya dapat menghasilkan 400 buah sel ovum setelah masa menopause yaitu berhentinya seorang wanita untuk menghasilkan sel ovum yang matang  Karena sudah tidak dihasilkannya hormone, sehingga berhentinya siklus  menstruasi sekitra usia 45-50 tahun.
Bagan/skema Oogenesis
                                       Sel oogonium (2n) 

                                                                   Mitosis
                         Oosit  primer  (2n)

                                                                                    Meiosis I

          Badan kutub primer                         Oosit  sekunder (2n)
 
                                                                                                                                      MeiosisII

Badan kutub sekunder    Badan kutub sekunder    Badan kutub sekunder         Ootid
 



                                                                                                                    OVUM

 




Gambar struktur sel sperma

                                                                                2                                                              KETERANGAN :
                                                                                                                3                              1. Protein
1                                                                                                                                              2. Kepala
                                                                                                                4                              3. Badan              
                                                                                                                                                4. Ekor

                                               


               


Gambar struktur sel ovum                                      


                                                                                                   1                           KETERANGAN :
                                                                                                   2                           1. Inti sel
                                                                                                                                2. Corona pelucida
                                                                                  3                                            3. Corona  radiata

Setelah ovulasi maka sel ovum akan mengalami 2 kemungkinan yaitu :


a.       Tidak terjadi fertilisasi maka sel ovum akan mengalami  MENSTRUASI yaitu luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi bersamaan dengan dinding endometrium yang robek. Terjadi secara periodic/sikus. Mempunyai kisaran waktu tiap siklus sekitar 28-35 hari setiap bulannya. 
Siklus menstruasi terdiri dari 4  fase yaitu :
1.      Fase Menstruasi yaitu peristiwa luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi bersamaan dengan dinding endometrium yang robek. Dapat diakbiatkan juga karena berhentinya sekresi hormone estrogen dan progresteron sehingga kandungan hormone dalam darah menjadi tidaka ada.
2.      Fase Proliferasi/fase Folikuler ditandai dengan menurunnya hormone progesteron sehingga memacu kelenjar hipofisis untuk mensekresikan FSH dan merangsang folikel dalam ovarium,  serta dapat membuat hormone estrogen diproduksi kembali. Sel folikel berkembang menjadi folikel de Graaf yang masak dan  menghasilkan hormone estrogern yang merangsangnya keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen dapat menghambat sekersei FSH tetapi dapat memperbaiki dinding endometrium yang robek.
3.      Fase Ovulasi/fase Luteal ditandai dengan sekresi LH yang memacu matangnya sel ovum pada hari ke-14 sesudah mentruasi 1. Sel ovum yang matang akan meninggalkan folikel dan folikel aka mengkerut dan berubah menjadi corpus luteum. Corpus luteum berfungsi untuk menghasilkan hormone progesteron yang berfungsi untuk mempertebal dinding endometrium yang kaya akan pembuluh darah.
4.      Fase pasca ovulasi/fase Sekresi ditandai dengan Corpus luteum yang mengecil dan menghilang dan berubah menjadi Corpus albicans yang berfungsi untuk menghambat sekresi hormone estrogen dan progesteron sehingga hipofisis aktif mensekresikan FSH dan LH.  Dengan terhentinya sekresi progesteron maka penebalan dinding endometrium akan terhenti sehingga menyebabkan endometrium mengering dan robek. Terjadilah fase pendarahan/menstruasi.

Gambar Siklus mentsruasi

                          siklus_menstruasi2

 




PERUBAHAN ENDOMERIUM DALAM SIKLUS MENSTRUASI
Haid (menstruasi) ialah perdarahan yang siklik dari uterus sebagai tanda   bahwa alat kandungan menunaikan faalnya. Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid yang baru. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Panjang siklus haid yang normal atau siklus dianggap sebagai siklus yang klasik ialah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama. Juga pada kakak beradik bahkan saudara kembar, siklusnya selalu tidak sama. Lebih dari 90% wanita mempunyai siklus menstruasi antara 24 sampai 35 hari.1-9,11,14,15.17,18 .Lama haid biasanya antara 3 – 6 hari, ada yang 1 – 2 hari dan diikuti darah sedikit sedikit kemudian, dan ada yang sampai 7 – 8 hari. Pada setiap wanita biasanya  lama  haid  itu  tetap.  Kurang  lebih  50%  darah  menstruasi  dikeluarkan dalam 24 jam pertama. Cairan menstruasi terdiri dari autolisis fungsional, exudat inflamasi, sel darah merah, dan enzym proteolitik.
Siklus menstruasi normal pada manusia dapat dibagi menjadi dua segmen : siklus ovarium dan siklus uterus. Siklus ovarium lebih lanjut dibagi menjadi phase follikular dan phase luteal, mengingat siklus uterus juga dibagi sesuai phase proliferasi dan sekresi. Siklus ovarium  digolongkan seperti :1,2,3,4,5,6,7.
a.       Phase  follikuler,  umpan  balik  hormonal  menyebabkan  matang  follikel  pada tengah siklus dan mempersiapkan untuk ovulasi. Kurang lebih panjang phase folikuller antara 10 sampai 14 hari.
b.      Phase luteal, waktu dari ovulasi sampai awal menstruasi, dengan waktu kurang lebih 14 hari.Sistem endokrin yang mengawsi siklus haid merupakan proses yang majemuk. Endometrium dipengaruhi secara siklik oleh estrogen dan progesterone, dan hormone steroid ini oleh hormon gonadotropin dari adenohipofisis.  Suatu sistem yang  terdiri  atas  releasing  hormone  dari  hipotalamus,  zat  ini  dialirkan  ke adenohiposis melalui pembuluh portal hipotalamus hipofisis. Sistem kedua merupakan mekanisme umpan balik steroid.





  1. ASPEK OVARIUM DALAM SIKLUS HAID
Ovarium mengalami perubahan perubahan dalam besar, bentuk dan posisinya sejak bayi dilahirkan hingga masa tua seorang wanita. Disamping itu terdapat perubahan perubahan yang diakibatkan oleh rangsangan berbagai kelenjar endokrin. Adapun perubahan tersebut dibagi dalam :1,3,8,9,10,14,15
A.    Ovarium dalam masa neonatus.
Pada bayi baru lahir terdapat ± 400.000 folikel pada kedua ovarium. Diameternya kurang lebih 1 cm,   dan beratnya   sekitar 250 – 350 mg pada waktu lahir. Dalam kortex hampir seluruh oosit terdapat dalam bentuk follikel primordial.
B.    Ovarium dalam masa anak anak
Pada masa anak anak ovarium masih belum berfungsi dengan baik. Ovarium sebagian   besar   terdiri   atas   kortek   yang   mengandung   banyak   follikel primordial. Follikel mulai berkembang akan tetapi tidak pecah dan kemudian mengalami  atresia  insitu.  Hormon  hipofise yang diperlukan untuk ovulasi belum berfungsui dengan baik. Pada usia kira kira 9 tahun kadar hormon gonadotropin mulai meningkat, sehingga produksi estrogen juga meningkat. Peningkatan  ini  menyebabkan  perkembangan  kelenjar  mamma  dan  alat genital.  Menarche  biasanya  terjadi  kira  kira  2  tahun  setelah  perubahan tersebut. Usia pubertas bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor genetik sosio ekonomi dan kesehatan dalam beberapa dekade terahir usia menarche terjadi pada  usia  yang  lebih  muda.  Dengan  ultrasonografi  dapat  dilihat  ukuran follikel antara 2 sampai 15 mm. Oosit pada periode ini sangat aktif berkembang.
C.    Ovarium dalam masa dewasa/masa reproduksi
Masa reproduksi dimulai dari masa pubertas pada umur kira kira 12 – 16 tahun dan berlangsung kurang lebih 35 tahun. Pada ovarium terjadi perubahan perubahan, kortek relatif lebih tipis dan mengandung banyak follikel follikel primordial. Follikel primordial tumbuh menjadi besar serta banyak mengalami atresia, biasanya hanya sebuah follikel yang tumbuh terus membentuk ovum dan pecah pada waktu ovulasi. Pada awal pubertas germ cell berkurang dari 300.000 sampai 500.000 unit. Selama usia reproduksi yang berkisar antara 35 – 40 tahun, 400 sampai 500 akan mengalami ovulasi. Follikel akan berkurang sampai menjelang menopause dan tinggal beberapa ratus pada saat menopause. Kira kira 10 – 15 tahun sebelum menopause sudah terjadi peningkatan jumlah follikel yang hilang. Ini berhubungan dengan meningkatnya hormon FSH.   Dalam tahun reproduksi, pematangan follikel akibat interaksi antara hipotalamus - pituitari – gonad.
D.   Pertumbuhan Follikel
Pemasakan follikel primordial terjadi sebagai berikut :
Mula mula sel sel sekeliling ovum berlipat ganda, kemudian diantara sel sel ini  timbul  sebuah  rongga  yang  berisi  cairan  ialah,  liquor  folliculi.  Ovum sendiri  terdesak  ke  pinggir  dan  terdapat  di  tengah  tumpukan  sel  yang menonjol   ke   dalam   rongga   follikel.   Tumpukan   sel   dengan   sel   telur didalamnya disebut cumulus oophorus. Antara sel telur dan sel sekitarnya terdapat zona pelluzida. Sel sel granulosa lainnya yang membatasi ruang follikel disebut membrane granulosa. Dengan tumbuhnya follikel jaringan ovarium sekitar follikel tersebut terdesak keluar dan membentuk 2 lapisan ialah theca interna yang banyak mengandung pembuluh darah dan theca externa yang terdiri dari jaringan ikat yang padat. Follikel yang masak ini disebut follikel de Graaf . Follikel de Graaf menghasilkan estrogen dimana tempat pembuatannya terdapat di theca interna. Sebelum pubertas follikel de Graaf  hanya  terdapat  pada  lapisan  dalam  dari  kortek  ovarium  dan  tetap tinggal dilapisan tersebut. Setelah pubertas juga terbentuk dilapisan luar dari kortek. Karena liquor follikuli terbentuk terus maka tekanan didalam follikel makin tinggi, tetapi untuk terjadinya ovulasi bukan hanya tergantung pada tekanan tinggi tersebut melainkan juga harus mengalami perubahan perubahan nekrobiotik pada permukaan follikel follikel.
Pada  permukaan  ovarium  sel  sel  menjadi  tipis  hingga  pada  suatu  waktu follikel akan pecah dan mengakibatkan keluarnya liquor follikuli bersama dengan ovumnya yang dikelilingi oleh sel sel cumulus oophorus. Keluarnya sel telur dari folikel de Graaf disebut ovulasi. Setelah ovulasi maka sel sel granulosa dari dinding folikel mengalami perubahan dan mengandung zat warna yang kuning disebut corpus luteum. Corpus luteum mengeluarkan hormon yang disebut progesterone disamping estrogen. Tergantung apakah terjadi konsepsi (pembuahan) atau tidak, corpus luteum dapat menjadi corpus luteum   graviditatum   atau   corpus   luteum   menstruationum.   Jika   terjadi konsepsi, corpus luteum dipelihara oleh hormon Chorion Gonadotropin yang dihasilkan oleh sinsiotrofoblas dari korion.
  1. ENDOKRINOLOGI DALAM MASA REPRODUKSI
Beberapa bulan atau beberapa tahun setelah menarche siklus yang berovulasi terjadi. Proses ini dipengaruhi oleh mekanisme neuro endokrin yang majemuk dan seluruhnya belum diketahui dengan jelas. Koterks serebri, hipofisis, ovarium dan rangsangan ekstern mempengaruhi fungsi reproduksi. Pengaruh neurohormonal Kelenjar   hipofisis   tidak dapat   membentuk   dan   mengeluarkan   hormon gonadotropin sendiri, tetapi harus dipengaruhi oleh hipotalamus. Hipotalamus sendiri juga dipengaruhi oleh korteks serebri dan faktor   faktor ekstern. Suatu konsep mengatakan bahwa dengan jalan transducer pengaruh ekstren disalurkan melalui serabut serabut saraf tertentu dari berbagai sentrum dalam otak yang lebih tinggi ke hipotalamus dan kemudian ke hipofisis.
Hubungan sentrum yang lebih tinggi ke hipotalamus bersifat neural dan hipotalamus  ke  hipofisis  bersifat  ganda.  Hipotalamus  dan  bagian  posterior hipofisis atau neurohipofisis dihubungkan secara neural, sedang hipotalamus dan bagian anterior hipofisis atau adenohipofisis secara neurohumoral dengan sistem vaskuler yang khas yang disebut sirkulasi portalhipofisis.
Hipotalamus mempengaruhi adenohipofisis dengan mengeluarkan zat yang disebut dengan releasing factor (RF)  atau releasing hormon (RH). Disamping itu hipotalamus  juga  mengeluarkan  zat  yang  menghambat  adenohipofisis  yang disebut dengan  inhibiting factor (IF) atau inhibing hormon (IH).Sampai saat  ini  telah  ditemukan  sebanyak  6  hormon  yang hipotalamus yakni :
dihasilkan  dari :
a.       Thyrotropin-releasing hormone (TRH), yang menyebabkan pengeluaran Thyroid   stimulating hormon (TSH)
b.      Luteinzing hormone-releasing hormone (LH-RH) yang mengeluarkan baik
follicle stimulating hormone (FSH) maupun luteinzing hormone (LH).
c.       Corticotropin-releasing  factor  (CRF)  yang  menyebabkan  pengeluaran
adrenocorticotropic hormone (ACTH).
d.      Growth  hormone-releasing  faktor  (SRF)  yang  mengeluerkan  growth hormone (GH).
e.       Prolactin – inhibiting factor (PIF) yang menghmabat sekresi prolaktin.
f.        Melanophore inhibitng factor yang menghambat pengeluaran Melanophore stimulating hormone.
Fungsi hipofisis
Dibawah  pengaruh  releasing  hormone,  adenohipofisis  mengeluarkan  hormone tropik. Hormon ini terdiri dari :
1.   Thyroid stimulating hormone (TSH)
2.   Adrenocorticotrophin hormone (ACTH)
3.   Growth hormone (GH)
4.   Melanocyt stimulating hormone (MSH)
5.   Follicle stimulating hormone (FSH)
6.   Luteinzing hormone (LH)
7.   Prolaktin
Hormon ovarium
Ovarium membentuk tiga macam hormon steroid
1.  Estrogen
2.  Progesteron
3.  Androgen.
4.  Relaksin.
Tidak  lama  setelah  haid  dibawah  pengaruh  hormone  FSH  dan  LH  folikel primer mulai berkembang dan memproduksi estrogen. Estrrogen ini dikeluarkan oleh  sel  sel  teka  dari  follikel.  Sesudah  folikel  matang  dan  ovulasi  terjadi, terbentuk  korpus  luteum:  sel  sel  granulose  dari  korpus  luteum  mengeluarkan estrogen    dan    progesterone.    Sedangkan    androsteron    dan    androstenadion merupakan produksi dari stroma ovarium.

1.            Esrogen
Estrogen memegang peranan penting dalam perkembangan ciri ciri kelamin sekunder  dan  mempunyai  pengaruh  terhadap  psikologi  perkembangan kewanitaan. Efek utama estrogen adalah pertumbuhan alat genital wanita dan kelenjar mamma. Vulva dan vagina berkembang di bawah pengaruh  estrogen ; hormone ini mempengaruhi jaringan epitel, otot polos, dan merangsang pembuluh darah alat alat tersebut. Estrogen juga menyebabkan proliferasi epitel vagina , penimbunan glikogen dalam sel epitel yang oleh basil doderlein diubah menjadi asam laktat sehingga menyebabkan pH vagina menjadi rendah.
Disamping itu estrogen mempunyai fungsi :
1.   mempengaruhi hormone lain.
a.   menekan produksi hormone FSH dan menyebabkan sekresi LH
b.   merangsang pertumbuhan follikel didalam ovarium, sekalipun tidak ada  FSH.
2.   menimbulkan   proliferasi   dari   endometrium   baik   kelenjarnya   maupun stromanya.
3.   mengubah uterus yang yang infantile menjadi matur.
4.   merangsang pertumbuhan dan menambah aktifitas otot otot tuba fallopi.
5. servik  uteri  menjadi  lembek,  ostium  uteri  terbuka  disertai  lendir  yang bertambahbanyak, encer, alkalis dan aselluler dengan pH yang bertambah sehingga mudah dilalui spermatozoa.
6.    menyebabkan pertumbuhan sebagian lobuli alveoli dan saluran glandula mamma.
2.     Progesteron
Pada siklus menstruasi ovulatoir kadar progesterone mulai dapat ditentukan pada hari ke 14, mencapai maksimum pada hari ke 16 dan tetap bertambah sampai hari ke 24 yang kemudian kadarnya menurun.
Progesteron  serum  mencapai  maksimum  lebih  dari  10  ng/ml  kira  kira  1 minggu setelah ovulasi. Kadar progesterone yang bertambah dari kurang 1 ng/ml menjadi lebih besar 5 ng/ml menunjukkan adanya ovulasi.
Sumber progesterone :
1.   Korpus luteum
2.   Plasenta
3.   Adrenal.
Fungsi Progesteron
1.   Menyiapkan endometrium untuk implantasi blastokist.
Endometrium yang sudah dipengaruhi estrogen karena pengaruh progesterone berubah menjadi desidua dengan timbunan glikogen yang makin bertambah yang sangat penting sebagai bahan makanan dan menunjang ovum.
2.   Mencegah   kontraksi   otot   otot   polos   terutama   uterus   dan   mencegah kontraktilitas uterus secara spontan karena pengaruh oksitosin.
3.   Servik uteri menjadi kenyal, ostium uteri tertutup disertai dengan lendir yang kental, sedikit, lekat, seluler dan banyak mengandung lekosit sehingga sukar dilalui spermatozoa.
4.   Mempengaruhi tuba fallopi.
a.   Glikogen dan vitamin C tertimbun banyak didalam mukosa tuba
b.   Peristaltik menjadi lemah
5.   Bersifat termogen, yaitu menaikkan suhu basal.
6.  Merangsang pertumbuhan asini dan lobuli glandula mamma pada fase luteal, sedang estrogen mempengaruhi epitel saluran.
7.   Merangsang natriuresis dan sebaliknya menambah produksi aldosteron.
8.   Merangsang pusat pernafasan sehingga respirasi bertambah.
9.   Mungkin menambah sekresi LH.
10. Tidak menekan  produksi  FSH  dan  tidak  berkhasiat  dalam  menghilangkan gejala gejala vasomotor pada masa menopause.
3.     Androgen
Androgen dapat dibentuk oleh ovarium, terutama dalam sel sel stroma ; androgen utamanya adalah androstenedion dengan daya androgen yang lemah tetapi dapat diubah diperifer menjadi testosterone yang bersifat androgen kuat. Peranan androgen pada wanita belum diketahui dengan pasti. Kelenjar adrenal membentuk juga androgen pada wanita dan pria.
4.     Relaksin
Relaksin merupakan hormon peptide yang dihasilkan korpus luteum verum. Pada wanita  tidak  ada  sumber  relaksin  serum  ektraluteal  dalam  sirkulasi.  Fungsi relaksin tidak diketahui, pada binatang percobaan relaksin menyebabkan servik uteri menjadi lembek.
ASPEK ENDOKRIN DALAM SIKLUS HAID 1,3,5,6,7,9,11,12,13
Dalam proses terjadinya ovulasi harus ada kerjasama antara korteks serebri, hipotalamus, hipofisis, ovarium, glandula tiroidea, glandula supra renalis dan kelenjar  kelenjar  endokrin  lainnya.  Yang  memegang  peranan  penting  dalam proses tersebut adalah hubungan antara hipotalamus, hipofisis dan ovarium (hyopothalamic-pituitary-ovarian axis).
Siklus haid (siklus ovarium) normal di bagi menjadi :
1.   Fase follikuler
2.   Fase Luteal
Tidak lama sesudah haid mulai, pada fase follikuler dini, beberapa follikel berkembang oleh pengaruh FSH yang meningkat. Meningkatnya FSH ini disebabkan oleh regresi korpus luteum, sehingga hormon steroid berkurang. Dengan berkembangnya follikel, produksi estrogen meningkat, dan ini menekan produksi FSH. Pada saat ini LH juga meningkat, namun peranannya pada tingkat ini hanya membantu pembuatan estrogen dalam follikel. Perkembangan follikel berahir setelah kadar estrogen dalam plasma meninggi. Pada awalnya estrogen meninggi secara berangsur angsur, kemudian dengan cepat mencapi puncaknya. Ini memberikan umpan balik positif terhadap pusat siklik dan dengan mendadak terjadi puncak pelepasan LH (LH-surge) pada pertengahan siklus yang mengakibatkan  terjadinya ovulasi. LH yang meninggi itu menetap kira kira 24 jam dan menurun pada fase luteal. Dalam beberapa jam setelah LH meningkat, estrogen menurun dan mungkin inilah yang menyebabkan LH menurun. Menurunnya estrogen mungkin disebabkan perubahan morfologik pada follikel atau mungkin juga akibat umpan balik negatif yang pendek dari LH terhadap hipotalamus.  LH-surge  yang  cukup  saja  tidak  menjamin  terjadinya  ovulasi; follikel hendaknya pada tingkat yang matang agar dapat dirangsang untuk brovulasi. Pecahnya folikel terjadi antara 16 – 24 jam setelah LH-surge.
Pada fase luteal, setelah ovulasi sel sel granulasa membesar membentuk vakuola dan bertumpuk pigmen kuning (lutein), follikel menjadi korpus luteum. Vaskularisasi dalam lapisan granulose juga bertambah dan mencapi puncaknya pada hari 8 – 9 setelah ovulasi . Luteinized granulose cells dalam korpus luteum membuat progesterone banyak, dan luteinized theca cells membuat pula estrogen yang banyak sehingga kedua hormon itu meningkat pada fase luteal. Mulai 10 –12 hari setelah ovulasi korpus luteum mengalami regresi berangsur angsur disertai dengan berkurangnya kapiler kapiler dan diikuti oleh menurunnya sekresi progesterone dan estrogen.
Masa hidup korpus luteum pada manusia tidak bergantung pada hormon gonadotropin. Pada kehamilan hidupnya korpus luteum diperpanjang oleh adanya rangsangan dari Human Chorionic Gonadotropin (HCG) yang dibuat oleh sinsiotrofoblast. Rangsangan ini dimulai pada puncak perkembangan korpus luteum  (8  hari  pasca  ovulasi),  waktu  yang  tepat  untuk  mencegah  terjadinya regresi luteal. HCG memelihara steroidogenesis pada korpus luteum hingga 9 –10 minggu kehamilan. Kemudian fungsi ini diambil alih oleh plasenta. Siklus endometrium terdiri dari 4 fase :
1.   Fase menstruasi atau deskuamasi
Pada masa ini endometrium dilepaskan dari dinding uterus disertai dengan perdarahan. Hanya lapisan tipis yang tinggal yang disebut dengan stratum basale,  stadium  ini  berlangsung  4  hari.  Dengan  haid  itu  keluar  darah, potongan   potongan   endometrium   dan   lendir   dari   cervik.   Darah   tidak membeku karena adanya fermen yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan potongan mukosa. Hanya kalau banyak darah keluar maka fermen tersebut tidak mencukupi hingga timbul bekuan bekuan darah dalam darah haid.
2.   Fase post menstruasi atau stadium regenerasi
Luka endometrium yang terjadi akibat pelepasan endometrium secara berangsur angsur sembuh dan ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang tumbuh dari sel sel epitel kelenjar endometrium. Pada waktu ini tebal endometrium ± 0,5 mm, stadium sudah mulai waktu stadium menstruasi dan berlangsung ± 4 hari.
3.   Fase intermenstruum atau stadium proliferasi
Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm. Fase ini berlangsung dari hari ke 5 sampai hari ke 14 dari siklus haid. Fase proliferasi dapat dibagi dalam 3 subfase yaitu :
a.   Fase proliferasi dini
Fase proliferasi dini berlangsung antara hari ke 4 sampai hari ke 9. Fase  ini  dikenal  dari  epitel  permukaan  yang  tipis  dan  adanya regenerasi epitel, terutama dari mulut kelenjar. Kelenjar kebanyakan lurus, pendek dan sempit. Bentuk kelenjar ini merupakan ciri khas fase proliferasi;  sel  sel  kelenjar  mengalami  mitosis.  Sebagian  sediaan masih   menunjukkan   suasana   fase   menstruasi   dimana   terlihat perubahan perubahan involusi dari epitel kelenjar yang berbentuk kuboid. Stroma padat dan sebagian menunjukkan aktivitas mitosis, sel selnya berbentuk bintang dan lonjong dengan tonjolan tonjolan anastomosis. Nukleus sel stroma relatif besar karena sitoplasma relatif sedikit.
b.   Fase proliferasi akhir
Fase ini berlangsung pada hari ke 11 sampai hari 14. Fase ini dapat dikenal dari permukaan kelenjar yang tidak rata dan dengan banyak mitosis. Inti epitel kelenjar membentuk pseudostratifikasi. Stroma bertumbuh aktif dan padat
4.   Fase pramenstruum atau stadium sekresi
Fase ini mulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke 14 sampai ke 28. Pada fase ini endometrium kira kira tetap tebalnya, tetapi bentuk kelenjar berubah  menjadi  panjang,  berkeluk  keluk  dan  mengeluarkan  getah  yang makin lama makin nyata. Dalam endometrium telah tertimbun glikogen dan kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur yang dibuahi. Memang tujuan perubahan ini adalah untuk mempersiapkan endometrium menerima telur yang dibuahi. Fase ini dibagi atas :
1.   Fase sekresi dini
Dalam fase ini endometrium lebih tipis daripada fase sebelumnya karena kehilangan cairan, tebalnya ± 4 – 5 mm. Pada saat ini dapat dibedakan beberapa lapisan, yaitu :
a.   stratum   basale,   yaitu   lapisan   endometrium   bagian   dalam   yang berbatasan      dengan  lapisan  miometrium.  Lapisan  ini  tidak  aktif, kecuali mitosis pada kelenjar.
b.   stratum spongiosum, yaitu lapisan tengah berbentuk anyaman seperti spons. Ini disebabkan oleh banyak kelenjar yang melebar dan berkeluk keluk dan hanya sedikit stroma di antaranya.
c.   stratum kompaktum, yaitu lapisan atas yang padat. Saluran saluran kelenjar sempit, lumennya berisi sekret dan stromanya edema.
2.   Fase sekresi lanjut
Endometrium  dalam  fase  ini  tebalnya  5    6  mm.  Dalam  fase  ini terdapat  peningkatan  dari  fase  sekresi  dini  ,  dengan  endometrium sangat banyak mengandung pembuluh darah yang berkeluk keluk dan kaya dengan glikogen. Fase ini sangat ideal untuk nutrisi dan perkembangan  ovum.  Sitoplasma  sel  sel  stroma  bertambah.    Sel stroma menjadi sel desidua jika terjadi kehamilan.


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright GLORY SHINE 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .