RSS

Jumat, 19 April 2013

LAPORAN PRAKTIKUM KUMAN



BAB I
Pendahuluan

A.    Tujuan Praktikum
A.1. Mengidentifikasi 10 jenis kuman dan jamur yang diamati.
A.2. Mengamati morfologi, bentuk, struktur, distribusi geografis,  warna, jenis penyakit  dan jenis pengecatan dari masing-masing kuman dan jamur yang diamati.
                A.3.  Mengamati perbedaan-perbedaan dari masing-masing kuman dan jamur yang diamati.










B.     Manfaat Praktikum
B.1. Praktikan dapat mengetahui 10 jenis bakteri dan jamur yang diamati
B.2. Praktikan dapat mengidentifikasi bentuk, sifat, distribusi geografis, warna, jenis pengecatan, jenis penyakit  dan peranan Mikroorganisme ( Jasad renik ) yang meliputi bakteri, jamur ( cendawan ) di dalam lingkungan dan pangan.
B.3. Praktikan dapat membedakan jenis – jenis bakteri dan jamur melalui identifikasi morfologi kuman.














          BAB II
Dasar Teori

1.      Mycrobacterium Lepra
a.      Pengertian
                 Mycobacterium leprae, juga disebut Basillus hansen, adalah bakteri yang menyebabkan penyakit kusta (penyakit Hansen). Bakteri ini merupakan bakteri intraselular. M. leprae merupakan gram-positif berbentuk tongkat. Mycobacterium leprae mirip dengan Mycobacterium tuberculosis dalam besar dan bentuknya.               ( Adam,1998 )

b.      Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan : Bacteria
Filum      : Actinobacteria
Ordo       : Actinomycetales
Upordo   : Corynebacterineae
Famili     : Mycobacteriaceae
Genus     : Mycobacterium
Spesies   : Mycrobacterium  leprae
( Mitcheli, 2000 )


c.       Morfologi
-    Dinding sel tidak Putus
-
 Mengambil sas warna secara merata.
-
 Panjang Kuman 4 kali dari  lebarnya.
-    Berbentuk seperti lidi atau kapas , awal mula ada kapsul lalu kapsulnya akan menghilang. (Adiguna, 2009)
                Gambar 2.1. Mycrobacterium Leprae
                                ( Prianto, 2006 )

d.      Penyebab  Penyakit
v  lepra lepromatosa
Mycobacterium leprae adalah satu-satunya bakteri menginfeksi yang saraf tepi dan hampir  semua komplikasinya merupakan akibat masuknya bakteri langsung bahasa dari ke dalam, saraf tepi. Bakteri ini  tidak menyerang otak dan medulla spinalis. Kemampuan untuk merasakan sentuhan, nyeri, panas dan dingin menurun, sehingga penderita mengalami kerusakan yang saraf tepi tidak menyadari adanya luka bakar, luka sayat atau mereka melukai dirinya sendiri. Kerusakan saraf tepi juga menyebabkan kelemahan otot yang menyebabkan jari-jari tangan seperti sedang mencakar dan kesemek terkulai. karena itu penderita lepra menjadi tampak mengerikan. Penderita juga memiliki luka di kakinya telapak. kerusakan pada kandung udara di hidung bisa menyebabkan hidung tersumbat. kerusakan mata dapat menyebabkan kebutaan. ( Richard, 2008 )
Tanda – tanda muncul benjolan kecil atau ruam menonjol yang lebih besar , terjadi kerontokan rambut tubuh, termasuk alis dan bulu mata. Penderita lepra lepromatosa dapat menjadi impoten dan mandul, karena infeksi dapat menurunkan kadar inisial testosteron dan jumlah sperma dihasilkan oleh testis yang.                         ( Richard, 2008 )

v  Lepra perbatasan
Merupakan suatu keadaan tidak stabil yang memiliki gambaran kedua bentuk lepra. Jika acute keadaannya membaik, maka akan menyerupai lepra tuberkuloid. Jika acute keadaannya memburuk, maka Akan menyerupai lepromatosa. Selama perjalanan penyakitnya, baik diobati maupun tidak diobati, bisa terjadi reaksi kekebalan tertentu, yang kadang timbul sebagai demam dan peradangan kulit, saraf tepi dan kelenjar getah bening, sendi, buah zakar, ginjal, hati dan mata. Pengobatan yang diberikan tergantung kepada hormone hormon dan beratnya reaksi, bisa diberikan kortikosteroid atau talidomid.  ( Richard, 2008 )

2.      Macroconidia
a.      Pengertian
Konidiospora, yakni salah satu jenis spora yang dimiliki oleh jamur untuk bereproduksi secara aseksual, yaitu Makrokonidia dan Mikrokonidia. Makrokonidia adalah salah satu jenis dari konidia yang terdiri atas lebih dari satu sel yang berbentuk lonjong dan menyerupai bulan sabit sedangkan mikrokonidia terdiri atas satu sel yang berbentuk bulat telur. ( Argulina, 2006 )
b.      Morfologi
Makrokonidia berukuran 6-27 x 3-9 µm, berwarna hialin, dan tidak bersekat. Makrokonidia pada konidiomata tua atau kering kemungkinan berubah menjadi berwarna cokelat dan memiliki 1-4 sekat. Mikrokonidia bentuknya memanjang, berukuran 3-5 x 1-3 µm, berwarna hialin, tidak teratur dan tidakbersekat.(Argulina,2006 )                         
                                     https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfWbMx49HgLisKJtHCx2m5lmyNaUq3F0ByN6AF3yIlY3bDJp0OX68dwCd1f7pML9EIXCuAhyOjHhXqrYGPwRMbJdaVi9Eeh2V1WHvR98VVnNjlNXgUwg3scRuaSR_1KmDECEn_stsabgM/s320/mikologi1.jpg 
                                           Gambar 2.2. Macroconidia ( Anonim, 2008 )
c.       Penyebab Penyakit
Dermatofitosis Penyakit yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofit, jamur ini dapat mencerna keratin kulit  ( keratinofilik ), sehingga jamur ini dapat menyerang lapisan kulit mulai dari stratum korneum sampai stratum basalis. Misalnya gatal – gatal dan panu dikulit .Penularan penyakit ini melalui : Kontak langsung , kontak tak langsung ( alat-alat ) dari penderita ( manusia / Antropofilik ). (Singgih, 2000 )

3.      Yeast Cell ( Khamir )
a.      Pengertian
      Khamir adalah bentuk sel tunggal dengan pembelahan secara pertunasan.         ( Singgih, 2000 )
b.      Morfologi
Khamir mempunyai sel yang lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar. Khamir sangat beragam ukurannya,berkisar antara 1-5 μm lebarnya dan panjangnya dari 5-30 μm atau lebih. Biasanya berbentuk telur,tetapi beberapa ada yang memanjang atau berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas, namun sekalipun dalam biakan murni terdapat variasi yang luas dalam hal ukuran dan bentuk. Sel-sel individu, tergantung kepada umur dan lingkungannya. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ-organ penggerak lainnya. Khamir (Ragi/Yeast) ukurannya mikroskopik, seluler, dan berkembangbiak dengan membentuk budding (seperti koloni kalau pada bakteri) Contoh: Candida albicans (penyebab keputihan). ( Singgih, 2000 )                           
                            http://aguskrisnoblog.files.wordpress.com/2011/01/khamir.jpg?w=570
               Gambar 2.3. Yeast Cell ( Khamir ). (Prianto, 2006 )
c.       Penyebab Penyakit
Penyebab penyakit keputihan pada wanita, yang ditandai dengan munculnya bau tidak sedap, gatal – gatal serta banyaknya lendir pada daerah kewanitaan. ( Singgih, 2000 )
4.      Penicillium
a.      Pengertian
Penicillium adalah genus jamur ascomycetous major pentingnya dalam lingkungan alam serta produksi makanan dan obat. Anggota menghasilkan penisilin genus, sebuah molekul yang digunakan sebagai antibiotik, yang membunuh atau menghentikan pertumbuhan beberapa jenis bakteri di dalam tubuh. Menurut Kamus dari Jamur (edisi 10, 2008), genus luas mengandung lebih dari 300 spesies (Prianto,2006 )
b.      Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan  :  Fungi
Divisi
       :Ascomycota
Kelas
       :Eurotiomycetes
Order
       :Eurotiales
Famili      :Trichocomaceae
Genus
      :Penicillium
Spesies    : Penicillium  expansum
( Mitchel, 2000 )

c.       Distribusi Geografik
Spesies Penicillium adalah jamur tanah di mana-mana lebih suka iklim dingin dan moderat, biasanya hadir dimanapun bahan organik yang tersedia. Spesies Penicillium yang hadir di udara dan debu dari lingkungan dalam ruangan, seperti rumah-rumah dan bangunan umum. Jamur dapat dengan mudah diangkut dari luar, dan tumbuh di dalam ruangan menggunakan bahan bangunan atau tanah akumulasi untuk memperoleh nutrisi untuk pertumbuhan. ( Indrawati, 2000 )
d.      Morfologi
Ciri-ciri spesifik Penicillium adalah sebagai berikut :
1.    Hifa septat, miselium bercabang, biasanya tidak berwarna.
2.    Konidiofora septat dan muncul di atas permukaan, berasal dari hifa di bawah permukaan, bercabang atau tidak bercabang.
3. Kepala yang membawa spora berbentuk seperti sapu, dengan sterigmata atau fialida muncul dalam kelompok.
4. Konidia membentuk rantai karena muncul satu per satu dari sterigmata.
5. Konidia pada waktu masiuh muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kebiruan atau kecoklatan
6. berbentuk seperti jari – jari. ( Indrawati, 2000 )

     
      Gambar 2.4. Penicillium ( Prianto, 2006 )

e.       Penyebab Penyakit
Beberapa spesies Penicillium mempengaruhi buah-buahan dan umbi tanaman, termasuk P. expansum, apel dan pir, P. digitatum, buah jeruk,  dan P. allii, bawang putih  Beberapa spesies diketahui patogen pada hewan, seperti P. corylophilum, P. fellutanum, P. implicatum, P. janthinellum, P. viridicatum, dan P. waksmanii adalah patogen potensial nyamuk,  P. marneffei, yang menyebabkan kematian pada tikus bambu Vietnam, telah menjadi umum Infeksi oportunistik Odha di Asia Tenggara.      ( Richard, 2000 )

5.      Aspergillus spp
a.      Pengertian
Aspergillus adalah genus yang terdiri dari beberapa ratus spesies jamur yang ditemukan di berbagai iklim di seluruh dunia. Aspergillus pertama kali tahun 1729 oleh katalog imam Italia dan biologi Pier Antonio Micheli. Nama "aspergillum" juga merupakan nama dari sebuah perkembangbiakan aseksual. Pembentuk spora struktur umum untuk semua Aspergilli, sekitar sepertiga dari spesies juga dikenal memiliki tahap seksual. ( Inge,2009 )

b.      Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan :Fungi
Filum
      :Ascomycota
Kelas
      :Eurotiomycetes
Order
       :Eurotiales
Famili      :Trichocomaceae
Genus
       :Aspergillus
(Micheli,1.729)


c.       Distribusi Geografik
Spesies Aspergillus sangat aerobik dan ditemukan di hampir semua kaya oksigen lingkungan, di mana mereka biasanya tumbuh sebagai cetakan pada permukaan substrat, sebagai akibat dari tekanan oksigen yang tinggi. Umumnya, jamur tumbuh kaya karbon substrat seperti monosakarida (seperti glukosa) dan polisakarida (seperti amilosa). Spesies Aspergillus merupakan kontaminan umum makanan bertepung (seperti roti dan kentang), dan tumbuh di dalam atau di banyak tanaman dan pohon-pohon.
Selain pertumbuhan pada sumber karbon, banyak spesies Aspergillus menunjukkan oligotrophy dimana mereka mampu tumbuh dalam lingkungan nutrisi-habis, atau lingkungan yang kekurangan nutrisi lengkap kunci.
d.      Morfologi
Tubuh atau talus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari 2 bagian miselium dan spora (sel resisten, istirahat atau dorman). Miselium merupakan kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5-10 μm, dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1 μm. Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma bersama. Kapang (Mould) secara ukuran sudah mikroskopik, namun masih terlihat mata terutama karena serabut-serabutnya (hifa). Perkembangbiakan dengan menggunakan hifa. ( Adiguna, 2000 )
          https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwrH9-0EDp-WwxCPBEdHJM8lG9VJ7ic3KCVrW_jAS58rRLu67zQBy2pFp56X9Kukw1Fe9sUnBIpdj4rqvJqK6_YQgyN5EJJi_1Wckn3mGdFGgOzkqcC1wLBKsuqtvfcwc8_fYFVGz12gA/s320/aspergillus.jpg
                                Gambar 2.5. Aspergillus ( Prianto,2006)
e.       Penyebab Penyakit
Beberapa spesies dapat menyebabkan infeksi pada manusia dan hewan   lainnya. Beberapa infeksi yang ditemukan pada hewan telah dipelajari selama bertahun-tahun. Beberapa spesies yang ditemukan pada hewan telah digambarkan sebagai baru dan khusus untuk penyakit diselidiki dan lain-lain telah dikenal sebagai nama sudah digunakan untuk organisme seperti saprophytes. Lebih dari 60 spesies Aspergillus secara medis patogen yang relevan. Bagi manusia ada berbagai penyakit seperti infeksi pada telinga eksternal, lesi kulit, dan bisul digolongkan sebagai mycetomas. Aspergillus spp menyebabkan penyakit pada tanaman biji-bijian, terutama jagung dan mikotoksin mensintesis termasuk aflatoksin. (Siregar, 2009 )
                  

6.      Mucor
a.      Pengertian
Mucor adalah genus mikroba dari sekitar 3000 spesies cetakan umumnya ditemukan di tanah, sistem pencernaan, permukaan tanaman, dan materi sayuran busuk. ( Adam, 1998 )
b.      Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan
: Fungi
Divisi
       : Zygomycota
Kelas
       : Zygomycetes
Order
     : Mucorales
Famili     : Mucoraceae
Genus
     : Mucor
( Mitcheli, 1998 )
c.       Morfologi
Koloni jamur genus ini biasanya berwarna putih krem ​​atau abu-abu dan tumbuh cepat. Koloni pada medium kultur dapat tumbuh beberapa sentimeter tingginya. Koloni yang lebih tua menjadi abu-abu dalam warna coklat karena perkembangan spora. ( Mitcheli, 1998 )
Spora Mucor atau sporangiospores bisa sederhana atau bercabang dan membentuk apikal, sporangia globular yang didukung dan diangkat oleh columella kolom berbentuk. Spesies Mucor dapat dibedakan dari cetakan dari Absidia genera, Rhizomucor, dan Rhizopus oleh bentuk dan penyisipan columella, dan kurangnya rhizoids. Beberapa spesies Mucor menghasilkan chlamydospores. ( Adam, 1998 )
          
                               Gambar 2.6. Mucor ( Prianto,2006 )
d.      Penyebab Penyakit
Meyababkan keracunan jika dimakan atau digunakan.  Sebagian besar spesies dari Mucor tidak dapat menginfeksi manusia dan hewan endotermik karena ketidakmampuan mereka untuk tumbuh di lingkungan yang hangat mendekati 37 derajat Celcius. Spesies tahan panas seperti Mucor indicus kadang-kadang menyebabkan oportunistik, dan sering menyebar dengan cepat, necrotizing infeksi yang dikenal sebagai zygomycosis. ( Adam, 1998 )

7.      Bacillus spp
a.      Pengertian
Bacillus merupakan bakteri pembentuk spora yang tergolong dalam famili Bacillaceae,. Bakteri ini bersifat aerobik sampai anaerobik fakultatif, katalase positif, dan kebanyakan bersifat gram positif, hanya beberapa bersifat gram variabel. Bentuk spora yang diproduksi oleh Bacillus bermacam-macam, tergantung dari spesiesnya. B. subtilis dan B. cereus memproduksi spora berbentuk silinder yang tidak membengkak, B. polymyxa dan B. sphaericus memproduksi spora yang membengkak, sedangkan B. subtilis membentuk spora yang langsing, tidak melebihi diameter 0.9 µm. ( Robert, 2002 )
b.      Klasifikasi  Ilmiah
Kerajaan : Bakteri
Divisi
      : Firmicutes
Kelas
       : Basil Tahan
Order
       : Bacillales
Famili      : Bacillaceae
Genus
       : Bacillus ( Cohn 1.872 )
c.       Distribusi Geografik
Spesies dari jenis Bacillus juga berbeda-beda dalam sifat pertumbuhannya. Beberapa bersifat mesofilik, misalnya B. subtilis, yang lainnya bersifat termofilik fakultataif misalnya B. coagulans, atau termofilik misalnya B. stearothermophilus. Biasanya berkembang biak pada makanan. ( Prianto, 2006 )
d.       Morfologi
Bacillus merupakan genus dari Gram-positif, berbentuk batang bakteri dan anggota dari filum Firmicutes. Spesies Bacillus dapat aerob obligat atau anaerob fakultatif, dan menguji positif untuk enzim katalase . Ubiquitous di alam, Bacillus meliputi spesies hidup bebas dan patogen. Dalam kondisi lingkungan stres, sel-sel menghasilkan endospora oval yang dapat tetap aktif untuk waktu yang lama. Karakteristik ini awalnya didefinisikan genus, tetapi tidak semua spesies tersebut terkait erat, dan banyak telah dipindahkan ke marga lain. ( Richard, 2008 )

                     
                  Gambar 2.7. Bacillus spp ( Prianto, 2006 )

e.       Penyebab Penyakit
B. stearothermophilus sering menyebabkan kerusakan pada makanan kaleng dengan memproduksi asam tanpa gas, sehingga kerusakannya disebut “flat sour” (busuk asam tanpa gas). Spesies lainnya, misalnya B. polymyxa dan B. macerans, jika tumbuh pada makanan akan membentuk asam dan gas. Serta menyebabkan gatal – gatal di kulit. ( Robert, 2002 )



8.      Staphylococcus spp
a.      Pengertian
Merupakan genus dari bakteri Gram-positif. Di bawah mikroskop, mereka muncul bulat (kokus), dan bentuk dalam anggur seperti cluster Genus Staphylococcus termasuk setidaknya 40 spesies. Dari jumlah tersebut, sembilan memiliki dua subspesies dan satu memiliki tiga subspesies  ( Rossenbacch, 1884 )
b.      Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan: Bakteri
Filum: Firmicutes
Kelas: Basil Tahan
Order: Bacillales
Keluarga: Staphylococcaceae
Genus: Staphylococcus
( Rosenbach, 1.884 )

c.       Dostribusi Geografik
Sebagian besar tidak berbahaya . Berada normal pada kulit dan selaput lendir manusia dan organisme lainnya. Ditemukan di seluruh dunia, mereka adalah komponen kecil dari flora mikroba tanah. ( Rossenbach, 1884 )
d.      Morfologi
Staphylococcus merupakan bakteri berbentuk bulat yang terdapat dalam bentuk tunggal, berpasangan, tetrad, atau berkelompok seperti buah anggur. Nama bakteri ini berasal dari bahasa Latin “staphele” yang berarti anggur. Beberapa spesies memproduksi pigmen berwarna kuning sampai oranye misalnya S. aureus. Bakteri ini membutuhkan nitrogen organik (asam amino) untuk pertumbuhannya, dan bersifat anaerobik fakultatif. ( Robert, 2002 )
         
          Gambar 2.8. Staphylococcus spp ( Prianto,2006 )
e.       Penyebab Penyakit
Anggota genus Staphylococcus sering menjajah kulit dan saluran pernapasan atas mamalia dan burung. Beberapa kekhususan spesies telah diamati dalam kisaran inang, seperti bahwa spesies Staphylococcus yang diamati pada beberapa hewan tampak lebih jarang pada spesies inang yang lebih jauh terkait, seperti S. arlattae  (ayam, kambing), Auricularis s. ( rusa, anjing, manusia ), S. capitis ( manusia ). (Prianto, 2006 )
Staphylococcus dapat menyebabkan berbagai macam penyakit pada manusia dan hewan lainnya baik melalui produksi racun atau penetrasi. Racun staphylococcal adalah penyebab umum dari keracunan makanan, karena mereka dapat diproduksi oleh bakteri yang tumbuh di makanan benar-disimpan. Sialadenitis paling umum disebabkan oleh stafilokokus, seperti infeksi bakteri. ( Robert, 2002 )

9.      Bakteri Bentuk Batang Gram ( - )
a.      Pengertian
         Merupakan bakteri berbentuk batang yang menggunakan pengecatan gram ( - ). ( Richard, 2008 )
b.      Karakteristik
·  Memiliki Cytoplasmic membrane
·  Lapisan peptidoglikan tipis
·  Memiliki membran tambahan diluar lapisan peptidoglikan yang dipisahakan oleh spasium periplasmik.
·  Membran luar terdiri atas Lipopolisakarida (LPS) yang tersusun oleh lipid A, inti polisakarida, antigen O
·  Terdapat porin di membran luar sebagai pori-pori untuk molekul tertentu.
·  Memiliki S-layer (Surface layer) yang melekat langsung pada membran luar.
·  Jika memiliki flagella, maka akan disokong oleh 4 buah cincin.
·  Tidak memiliki asam teichoic ataupun asam lipoteichoic.
·  Lipoprotein merekat pada polisakarida.
·  Kebanyakan tidak mengalami sporulasi. ( Robert, 2002 )
  
                 Gambar 2.9. Kuman Bentuk Batang Gram ( - ). ( Prianto, 2006 )
c.       Penyebab Penyakit
Infeksi saluran kemih, luka infeksi nafas, dan peradangan selaput otak. ( Singgih, 2000 )
10.  Bakteri Tahan Asam ( Basil )
a.      Pengertian
Bakteri tahan asam adalah bakteri yang mempertahankan zat warna karbol-fuchsin (fuchsin basayang dilarutkan dalam suatu campuran phenol-alkohol-air) meskipun dicuci dengan asam klorida dalam alkohol. Sediaan sel bakteri pada gelas alas disiram dengan cairan karbol fuchsin kemudian dipanaskan sampai keluar uap. Setelah itu, zat warna dicuci dengan asam alkohol dan akhirnya diberi warna kontras (biru atau hijau). Bakteri-bakteri tahan asam (spesies Mycobakterium dan beberapa Actinomycetes yang serumpun) berwarna merah dan yang lain-lain akan berwarna sesuai warna kontras.( Inge, 2009 )
b.      Morfologi
Berbentuk batang, yang tidak membentuk spora. Walaupun tidak mudah diwarnai bakteri ini tahan terhadap penghilangan warna (deklorisasi) oleh asam atau alkohol dan karena itu dinamakan basil tahan asam. Ciri –ciri khas dalam jaringan, basil tuberkel merupakan batang ramping lurus berukuran kira-kira 0,4 x 3 µm. Pada perbenihan buatan terlihat bentuk coccus dan filamen. ( Robert, 2009 )
                     
            Gambar 2.10. Bakteri Tahan Asam ( Basil ). ( Prianto, 2006)

c.       Penyebab Penyakit
Microbacterium Tuberculosis ( TBC ) yaitu TBC paru – paru, TBC tulang, dan lain – lain. ( Indrawati, 2000 )

11.  Pengecatan
a.       Pengecatan Gram atau metode Gram
Merupakan  salah satu teknik pewarnaan yang paling penting dan luas yang digunakan untuk mengidentifikasi bakteri. Dalam proses ini, olesan bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan yodium, larutan alkohol (bahan pemucat), dan zat pewarna tandingannya berupa zat warna safranin atau air fuchsin.. Bakteri yang terwarnai dengan metode ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram Negatif.              ( Mitchel, 2000 )
Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet dan karenanya akan tampak berwarna ungu tua di bawah mikroskop. Adapun bakteri gram negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi zat pewarna tandingannya yaitu dengan zat pewarna air fuchsin atau safranin akan tampak berwarna merah. Perbedaan warna ini disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi dinding selnya.Dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu :
a)    Zat warna utama (violet kristal)
b)    Mordan (larutan Iodin)
c)    Pencuci / peluntur zat warna (alcohol / aseton)
d.)  Zat warna kedua / cat penutup (safranin)
          b.  Pewarnaan Zeihl Neelsen ( ZN )
Pewarnaan ini menggunakan pewarna utama karbol fuksin. Yang memungkinkan bakteri tahan asam terlihat berwarna merah, sementara jenis lain akan tampak sesuai pewarna pembanding. Pewarnaan Ziehl-Neelsen menggunakan 3 jenis larutan, yaitu ZN A, ZN B, dan ZN C. Larutan ZN A merupakan cat utama yang berupa karbolfuksin, memberikan warna merah kepada sel bakteri. ( Robert, 2002 )
Larutan ZN B adalah   peluntur yang berupa etanol, yang melunturkan warna merah pada bakteri tidak tahan asam, sementara warna merah pada bakteri tahan asam tidak luntur. Larutan ZN B merupakan pewarna pembanding berupa methylen blue, sehingga bakteri tidak tahan asam yang tadi warnanya luntur memiliki kekontrasan dengan bakteri tahan asam. Hasil akhirnya adalah bakteri tahan asam tampak berwarna merah, sementara bakteri tidak tahan asam berwarna biru. ( Robert, 2002)
        c . Pewarnaan LPCB
Pada pewarnaan LPCB (Lactopenol Conten Bloe), menggunakan cairan LPCB yang memiliki tiga komponen: fenol, yang akan membunuh organisme hidup, asam laktat yang memelihara struktur jamur, dan biru kapas yang memberi warna/noda chitin pada dinding sel jamur. Hasil yang didapat setelah diamati dibawah mikroskop adalah jamur yang diamati (Rhizopus sp) menjadi berwarna biru, dengan dasar lebih terang sehingga strukturnya terlihat lebih jelas. ( Adam, 1998 )
BAB III
Metode Praktikum

A.    Alat
1.      Mikroskop Cahaya dan Listrik
Ø Digunakan untuk melihat morfologi sel kuman, susunan khas kuman, sifat kuman terhadap cat, warna kuman dan warna dasar cat.
2.      Kertas Gambar A4
Ø Digunakan sebagai media atau tempat menggambar hasil pengamatan jamur dan bakteri
3.      Alat Tulis
Ø Digunakan sebagai alat bantu untuk menggambar hasil pengamatan jamur dan bakteri, seperti pensil, penghapus, penggaris, jangka, dll.
4.      Pensil Warna
Ø Digunakan untuk membantu mewarnai gambar hasil pengamatan







B.     Bahan
1.      Preparat
Ø  Digunakan sebagai objek yang diamati morfologinya baik bentuk, struktur, sifat, warna dan jenis pengecatan. Yang terdiri dari :
-          Preparat Microbacterium Leprae
-           Praparat Macroconidia
-          Praparat  Yeast Cell
-          Praparat Penicillium
-          Praparat  Aspergiluus Spp,
-          Praparat Mucor
-          Praparat Bacillus Spp
-          Praparat Staphylococcus
-          Praparat Kuman Bentuk Batang
-          Praparat Bakteri Tahan Asam.








C.    Skema Kerja Praktikum


Flowchart: Alternate Process: Menyiapkan Alat dan Bahan di Atas Meja Praktikum
 
       
Flowchart: Alternate Process: Melakukan Pengamatan Preparat Awetan Microbacterium Leprae       



 
Flowchart: Alternate Process: Menggambar Hasil Pengamatan Pada Kertas Gambar A4                  
                  











Flowchart: Alternate Process: Mewarnai Hasil Pengamatan


 














BAB IV
Hasil dan Pembahasan

A.    Hasil
1.      Microbacterium Lepra
Material           : Ries Serum
Pengecatan      : Ziehl Neelsen ( ZN )
Penyebab Penyakit : Saraf Usus dan Tulang Hancur
Perbesaran       : 100  x 10
Warna Dasar    : Biru
Warna Kuman : pink / merah
        Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Microbactreium Lepra

2.      Macroconidia
                   
Material           : Kultur
Pengecatan      : LPCB ( Lactopenol Conrtn Bloe)
Penyebab Penyakit : Dermatopiton ( Gatal – Gatal / Panu )
Perbesaran       : 40 x 10
Warna Dasar   : Biru
Warna Kuman : Biru
                  Tabel 4.2. Hasil Pengamatan Macromedia




3.      Yeast Cell, Pseudohyphae

Material      : Kultur
Pengecatan : Gram ( + )
Penyebab Penyakit : Pada Wanita Keputihan
Perbesaran   : 40 x 10
Warna Dasar   : Merah
Warna Kuman : Ungu Violet
                   Tabel 4.3. Hasil Pengamatan Yeast Cell, Pseudohyphae




4.      Penicillium
                      
Material      : Kultur
Pengecatan : LPCB ( Lactopenol Conrtn Bloe)
Penyebab Penyakit : Radang Tenggorokan, Paru - Paru
Perbesaran   : 40 x 10
Warna Dasar   : Biru
Warna Kuman : Biru
                  Tabel 4.4. Hasil Pengamatan Penicillium




5.      Aspergiluus spp
Material           : Kultur
Pengecatan      : LPCB ( Lactopenol Conrtn Bloe)
Penyebab Penyakit : Radang Paru - Paru
Perbesaran       : 40 x 10
Warna Dasar   : Biru
Warna Kuman : Biru
                       Tabel 4.5.  Hasil Pengamatan Aspergiluus spp





6.      Mucor

Material        : Kultur
Pengecatan    : LPCB ( Lactopenol Conrtn Bloe)
Penyebab Penyakit : Gatal – Gatal pada Kulit
Perbesaran      : 40  x 10
Warna Dasar   : Biru
Warna Kuman : Biru
               Tabel 4.6. Hasil Pengamatan Mucor




7.      Bacillus spp ( kbb gram ( + ) berspora )

Material         : Kultur
Pengecatan    : Gram
Penyebab Penyakit : Infeksi Kulit, Paru – Paru, pada usus dam  selaput otak
Perbesaran      : 100 x 10
Warna Dasar   : Merah
Warna Kuman : Ungu Violet
                Tabel 4.7. Hasil Pengamatan Bacillus spp ( kbb gram ( + ) berspora )



8.      Staphylococcus spp

Material         : Kultur
Pengecatan     : Gram
Penyebab Penyakit : Peradangan, Nekrosis, Abses dan Keracunan Makanan
Perbesaran       : 100 x 10
Warna Dasar   : Merah
Warna Kuman : Ungu / Violet
           Tabel 4.8. Hasil Pengamatan Staphylococcus spp



9.      Kuman Bentuk Batang Gram ( - )

Material            : Kultur
Pengecatan       : Gram
Penyebab Penyakit : Infeksi Saluran Kemih, Luka Infeksi Nafas, dan Peradangan Selaput Otak
Perbesaran       : 100 x 10
Warna Dasar   : Merah
Warna Kuman : Merah
              Tabel 4.9. Kuman Bentuk Gram ( - )



10.  Bakteri Tahan Asam ( Basil )

Material      : Kultur / Sputum
Pengecatan : Ziehl Neelsen
Penyebab Penyakit : Mycrobacterium Tuberculosis ( TBC ), TBC Paru – Paru, Tulang, dll
Perbesaran   : 100 x 10
Warna Dasar   : Biru
Warna Kuman : Pink / Merah pink
        Tabel 4.10. Hasil Pengamatan Bakteri Tahan Asam ( Basil )



B.     Pembahasan.

1.      Mycrobacterium Leprae
              Pada pengamatan Mycrobacterium Leprae, saya meneliti menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 x 10, karena kuman tidak terlihat jelas apabila dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan hasil pengamatan, bentuk Mycrobacterium Leprae adalah bulat seperti kapsul . Susunannya bergerombol atau berkeompok dan meyebar merata. Pada Mycrobacterium Leprae menggunakan pengecatan Ziehl Nelsen ( ZN ), sehingga warna kumannya adalah merah, sedangkan warna dasarnya adalah biru. Mycrobacterium leprae dapat menyebabkan penyakit saraf usus dan tulang menjadi hancur atau keropos.
2.      Macroconidia
             Pada pengamatan Macroconidia, saya meneliti menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40 x 10, karena jamur tidak terlihat jelas apabila dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan hasil pengamatan, bentuk Macroconidia adalah tidak teratur, berbentuk lonjong seperti pete serta terdapat sel berbentuk bulat kecil .Susunannya menyebar merata di seluruh sel.  Pada Macroconidia menggunakan pengecatan LPCB ( Lactopenol Conten Bloe ), sehingga warna kumannya adalah biru, sedangkan warna dasarnya adalah biru. Macroconidia dapat menyebabakan penyakit dermatofitosis ( gatal – gatal atau panu ).


3.      Yeast Cell, Pseudohyphae
             Pada pengamatan Yeast Cell, Pseudohyphae , saya meneliti menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40 x 10, karena kuman tidak terlihat jelas apabila dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan hasil pengamatan, bentuk Yeast Cell adalah bulat – oval ( seperti telur ). Susunannya bergerombol atau berkelompok dan  menyebar di seluruh sel. Pada Yeast Cell menggunakan pengecatan Gram   ( + ), sehingga warna kumannya adalah ungu atau violet, sedangkan warna dasarnya adalah merah. Yeast Cell dapat meyebabkan keputihan pada wanita.

4.      Penicillium
             Pada pengamatan Penicillium, saya meneliti menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40 x 10, karena kuman tidak terlihat jelas apabila dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan hasil pengamatan Penicillium, bentuk Penicillium adalah tidak teratur , seperti jari dengan ada tangkainya. Susunannya adalah menyebar merat di seluruh sel.  Pada Penicillium menggunakan pengecatan LPCB ( Lactopenol Contrn Bloe ), sehingga warna kumannya adalah biru, sedangkan warna dasarnya adalah biru. Penicillium dapat menyebabkan penyakit radang tenggorokan dan paru – paru.




5.      Aspergilluus spp
             Pada pengamatan Aspergillus spp, saya meneliti menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40 x 10, karena kuman tidak terlihat jelas apabila dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk kuman Aspergillus spp adalah tidak teratur, bulat dengan ada rambut- rambutnya ( seperti matahari terbit ) dan ada benang – benang seperti tangkainya.  Susunannya adalah menyebar merata di seluruh sel. Pada Aspergillus spp menggunakan pengecatan LPCB ( Lactopenol Contrn Bloe ), sehingga warna kumannya adalah biru, sedangkan warna dasarnya adalah biru. Aspergillus spp menyebabkan penyakit peradangan pada paru – paru.

6.      Mucor
             Pada pengamatan Mucor, saya meneliti menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40 x 10, karena kuman tidak terlihat jelas apabila dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk kuman Mucor  adalah  bulat seperti bola pimpong atau raket, dengan ada benang – benang seperti tangkainya yang saling menghubungkan . susunannya adalah menyebar di seluruh sel. Pada Mucor menggunakan pengecatan LPCB ( Lactopenol Contrn Bloe ), sehingga warna kumannya adalah biru, sedangkan warna dasarnya adalah biru. Mucor  menyebabkan penyakit gatal – gatal pada kulit.  



7.      Bacillus spp
             Pada pengamatan Bacillus spp, saya meneliti menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 x 10, karena kuman tidak terlihat jelas apabila dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk kuman Bacillus spp adalah tidak teratur, bentuknya seperti cacing – cacing kecil. susunannya adalah menyebar di seluruh sel. Pada Bacillus spp menggunakan pengecatan Gram ( + )  sehingga warna kumannya adalah ungu, sedangkan warna dasarnya adalah merah. Bacillus spp menyebabkan penyakit infeksi pada kulit, paru – paru, infeksi pada usus, infeksi selaput otak.  

8.      Staphylococcus spp
             Pada pengamatan Staphylococcus spp, saya meneliti menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 x 10, karena kuman tidak terlihat jelas apabila dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk kuman Staphylococcus spp adalah teratur, bentuknya bulat seperti anggur. Susunannya adalah berpasangan atau berantai dan menyebar di seluruh sel. Pada Staphylococcus spp menggunakan pengecatan Gram ( + )  sehingga warna kumannya adalah ungu atau violet, sedangkan warna dasarnya adalah merah. Staphylococcus spp  menyebabkan peradangan, nekrosis, abses dan keracunan pada makanan.



9.      Kuman Bentuk Gram ( - )
             Pada pengamatan Kuman bentuk gram ( - ), saya meneliti menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 x 10, karena kuman tidak terlihat jelas apabila dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk Kuman Betuk Batang adalah tidak teratur, bentuknya seperti batang panjang. Susunannya adalah menyebar merat di seluruh sel. Pada Kuman Bentuk Batang  menggunakan pengecatan Gram ( - )  sehingga warna kumannya adalah merah, sedangkan warna dasarnya adalah merah. Kuman Bentuk Batang  menyebabkan penyakit infeksi pada saluran kemih, luka infeksi pada saluran pernapasan dan peradangan selaput otak.

10.  Bakteri Tahan Asam ( Basil )
             Pada pengamatan bakteri tahan asam ( Basil ), saya meneliti menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 x 10, karena kuman tidak terlihat jelas apabila dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk kuman Bakteri Tahan Asam  adalah tidak teratur, bentuknya seperti pulau – pula kecil yang tidak teratur. Susunannya menyebar merat di seluruh sel. Pada Bakteri Tahan Asam  menggunakan pengecatan Ziehl Neelsen ( ZN )  sehingga warna kumannya adalah merah , sedangkan warna dasarnya adalah biru. Bakteri Tahan Asam menyebabkan penyakit mycrobacterium tuberculosis ( TBC ), TBC paru – paru, tulang dan lain – lain.


BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan

1.      Bakteri Mycrobacterium Leprae berbentuk bulat seperti kapsul dan susunannya bergerombol atau berkelompok.

2.       Jamur Macroconidia berbentuk tidak teratur,  lonjong seperti pete serta terdapat sel berbentuk bulat kecil, susunannya meyebar merata di seluruh sel.


3.      Jamur Yeast Cell, Pseudohyphae  berbentuk bulat – oval ( seperti telur ), susunannya bergerombol atau berkelompok.

4.      Jamur Penicillium berbentuk tidak teratur , seperti jari dengan ada tangkainya, susunannya menyebar merata di seluruh sel.


5.      Jamur Aspergillus spp berbentuk tidak teratur, bulat dengan ada rambut- rambutnya ( seperti matahari terbit.) dan ada benang – benang seperti tangkainya.  Susunannya adalah menyebar merata di seluruh sel.
6.       Jamur Mucor berbentuk tidak teratur, bulat dengan ada rambut- rambutnya ( seperti matahari terbit ) dan ada benang – benang seperti tangkainya, susunannya menyebar merata di seluruh sel.  

7.      Kuman Bacillus spp berbentuk tidak teratur, seperti cacing – cacing kecil, susunannya menyebar merata di seluruh sel.  


8.      Jamur Staphylococcus berbentuk teratur, bentuknya bulat seperti anggur, susunannya berpasangan berantai.  

9.      Jamur Kuman Bentuk Batang berbentuk tidak teratur, bentuknya seperti batang panjang, susunannya menyebar merata di seluruh sel.  


10.  Jamur Bakteri Tahan Asam ( Basil )  berbentuk seperti pulau – pula kecil yang tidak teratur, susunannya menyebar merata di seluruh sel.

11.   Pengecatan Gram ( + ) warna dasar merah, warna kuman ungu atau violet,  yang termasuk pengecatan gram ( + ) yaitu Yeast cell,Bacillus spp, dan  Staphylococcus spp,.
12.  Pengecatan Gram ( - ) warna dasar merah, warna kuman merah, yang temasuk pengecatan gram ( - ) yaitu Kuman Bentuk Batang.

13.  Pengecatan Ziehl Neelsen ( ZN ) warna dasar biru, warna kuman merah, yang termasuk pengecatan Zeih Neelsen yaitu Microbacterium leprae, Bakteri Tahan Asam ( Basil ).


14.  Pengecatan LPCB ( Lactopenol Conten Bloe ) warna dasar biru, warna kuman biru yang termasuk pengecatan LPCB yaitu Macroconidia, Penicillium, Apergillus spp dan Mucor. 











B.     Saran
Ada beberapa saran yang perlu saya sampaikan kepada pihak – pihak terkait :
1.      Fakultas perlu memperluas ruang laboratorium terpadu FKM Undip, karena mengingat ruangan yang terbatas tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang melakukan praktikum. Selain itu, fasilitas labortaorium juga perlu ditambah guna meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk melakukan kegiatan praktikum.
2.      Pihak Penanggung Jawab Praktikum perlu menambah waktu untuk melakukan praktikum, sehingga mahasiswa tidak hanya melakukan kegiatan pengamatan, namun mahasiswa juga bisa melakukan uji coba dari persiapan awal hingga akhir percobaan dengan maksimal.











Daftar Pustaka


Adam, Syamsunir. 1995. Dasar – Dasar Mikrobiologi Parasitologi. Jakarta : EGC
Adiguna ,dkk. 2004. Epidemiologi Dermatomikosis di Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit  FKUI
Diah, Aryulina.2006.  Biologi 1. Jakarta : Erlangga
Ganjar, Indrawati,dkk. 2000. Mikologi Dasar dan Terapan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Hayati, Nur. 2010. Senarai Istilah – Istilah Mikologi. Palembang : Universitas Sriwijaya
Mitchel, dkk. 2000. Dasar Patologi Penyakit. Jakarta : EGC
Prianto, Juni, dkk. 2006. Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta : Gramedia
Richard,dkk. 2008. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta : EGC
Robert, dkk. 2002. Resensi Ilmu Laboratorium Klinis. Jakarta : 2002
Singgih, Marlia. 2000.  Identifikasi dan Karakteistik Mikroba dengan Cara Mikrobiologi.  Bandung : ITB
Siregar R.S. 2004. Penyakit Jamur Kulit. Edisi kedua. Jakarta: EGC
Sutanto, Inge, dkk. 2009. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit FKUI








Lampiran


1 komentar:

Dave Thames mengatakan...

Bosan tidak tahu mau mengerjakan apa pada saat santai, ayo segera uji keberuntungan kalian
hanya di D*EW*A*P*K / pin bb D87604A1
dengan hanya minimal deposit 10.000 kalian bisa memenangkan uang jutaan rupiah
dapatkan juga bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% :)

Posting Komentar

 
Copyright GLORY SHINE 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .