RSS

Selasa, 06 Januari 2015

HUBUNGAN ZN DENGAN HIV






BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Aquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan menurunnya kekebalan tubuh oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1981 angka kejadiannya semakin pesat.
Human Immunodeficiency Syndrome (HIV) terutama menginfeksi sel limfosit CD4 sehingga terjadi penurunan jumlah maupun fungsi limfosit CD4.. Limfosit CD4 merupakan sel yang berfungsi sentral dalam sistem imun. Apabila terjadi destruksi pada sel tersebut, dapat terjadi depresi sistem imun terutama imunitas selular. Keadaan ini meningkatkan keretanan penderita terhadap infeksi oportunistik yang merupakan faktor risiko mortalitas pada HIV/AIDS (Bartlett dan Gallant, 2001).
Nutrisi berperan penting dalam perjalanan penyakit penderita HIV. Malnutrisi dapat menekan fungsi imun dan dan meningkatkan kerentanan penderita terhadap infeksi sehingga memperburuk kondisi penderita dan meningkatkan progesivitaspenyakitnya. Perbaikan asupan dan status makronutrien dan mikronutrien dapat membantu memperkuat dan meningkatkan fungsi sistem imun manusia pada berbagai penelitian (Rundles, 2002; Buys dan Hussey, 2002; Fernandes dkk, 2006)
Seng (Zn) merupakan salah satu makronutrien yang berperan penting dalam fungsi imunitas. Semua sel-sel imun menunjukkan penurunana fungsi pada keadaan defisiensi Zn (Shankar dan Prasad, 1998; Prasad, 2002; Helge dan Rink, 2003).
Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan pada penderita HIV/AIDS didapatkan kadar Zn yang rendah (Beach dkk, 1992; Koch dkk, 1996). Rendahnya kadar Zn plasma pada penderita HIV berhubungan dengan jumlah limfosit CD4 yang lebih rendah dan permulaanterjadinya infeksi oportunistik yang lebih cepat pada penderita (Mocchegiani dkk, 2000; Visser, 2003; Helge dan Rink, 2004).

1.2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
a).  Bagaimana hubungan atau korelasi antara asupan Zn dengan kadar Zn   Plasma ?
b). Bagaimana korelasi antara status gizi (IMT) dengan jumlah limfosit CD4?
c).   Bagaimana efek langsung Zn terhadap HIV ?
d). Bagaimana Peran sel limfosit CD4 pada sistem imun penderita HIV ?
e). Bagaimana pengaruh defisiensi Zn terhadap respon imun penderita HIVAids ?
1.3.TUJUAN
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah  :
a). Untuk mengetahui korelasi asupan Zn dengan kadar Zn plasma
b). Untuk mengetahui koelasi antara status gizi dengan jumlah CD4
c). Untuk mengetahui efek langsung Zn terhadap Penderita HIV
d). Untuk mengetahui peran sel limfosit CD4 pada sistem imun penderita HIV
e). Untuk mengetahui pengaruh defisiensi Zn terhadap respon imun penderita HIV
1.4. MANFAAT
Dengan tugas ini diharapkan dapat menambah pengetahuan kepada mahasiswa sehingga mampu mengetahui korelasi atau hubungan antara kadar Zn dengan penyakit HIV.
















BAB II
LANDASAN TORI

2.1  Zn atau Seng
            Zn atau yang biasa disebut seng termasuk dalam kelompok zat gizi mikro yang mutlak dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang sangat kecil untuk memelihara kehiduoan yang optimal. Seng terdapat dalam jumlah yang cukup banyak di dalam setiap sel, kecuali sel darah merah dimana zat besi berfungsi khusus mengangkut oksigen. Seng tidak terbatas fungsinya seperti zat besi dan kalsium.fungsi fisiologi yang bergantung pada seng ialah pertumbuhan dan pembelahan sel, antioksidan, perkembangan seksual, kekebalan seluler dan humoral, adaptasi gelap, pengecapan serta nafsu makan.
            Tubuh mengandung 2-2,5 gram seng yang tersebar di hampir semua sel. Sebagian besar seng berada di dalam hati, pankreas, ginjal, otot dan tulang. Jaringan yang banyak mengandung seng adalah bagian-bagian mata, kelenjar prostat, spermatozoa, kulit, rambut dan kuku. Di dalam cairan tubuh, seng terutama merupakan ion intraselular. Seng di dalam plasma hanya merupakan 0,1% dari seluruh seng di dalam tubuh yang mempunyai masa pergantian yang cepat.

2.1.1 Fungsi Seng

                                     Seng memegang peranan esensial dalam banyak fungsi tubuh. Sebagai bagian dari enzim atau sebagai kofaktor pada kegiatan lebih dari dua ratus enzim, seng berperan dalam berbagai aspek metabolisme, seperti reaksi-reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipida dan asam nukleat. Sebagai bagian dari enzim peptidase karboksil yang terdapat di dalam cairan pankreas, seng berperan dalam pencernaan protein. Peranan penting lain adalah sebagai bagian dari integral enzim DNA polimerase dan RNA polimerase yang diperlukan dalam sintesis DNA dan RNA. Sebagai bagian dari enzim kolagenase, seng berperan pula dalam sintesis dan degradasi kolagen. Dengan demikian, seng berperan dalam pembentukan kulit, metabolisme jaringan ikat dan penyembuhan luka.
                                     Seng juga berperan penting dalam dalam sistem kekebalan dan terbukti bahwa seng merupakan mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi. Limfo-penia, konsentrasi dan fungsi limfosit T dan B menurun, menurunnya fungsi leukosit seringkali ditemukan pada penderita defisiensi seng. Taraf darah seng yang rendah dihubungkan dengan hipogeusia atau kehilangan indra rasa, yang biasanya disertai penurunan nafsu makan dan hiposmia atau kehilangan indra bau.
                                     Selain itu, peranan sel juga terdapat dalam pengembangan fungsi reproduksi laki-laki dan pembentukan sperma. Sebagai bagian berbagai enzim dehidrogenase, selain berperan dalam metabolisme tahap pertengahan, seng berperan pula dalam detoksifikasi alkohol dan metabolisme vitamin A. Retinal dehidrogenase di dalam retina yang mengandung seng berperan dalam metabolisme pigmen visual yang mengandung vitamin A. Di samping itu seng diperlukan untuk sintesis alat angkut vitamin A protein pengikat retinol (Retinol Binding Protein/RBP) di dalam hati. dengan terkaitnya seng dengan metabolisme vitamin A, berarti seng terkait dengan berbagai fungsi vitamin A.
                                     Seng tampaknya juga berperan dalam metabolisme tulang, transpor oksigen, dan pemunahan radikal bebas, pembentukan struktur dan fungsi membran serta proses penggumpalan darah.Karena seng berperan dalam reaksi-reaksi yang luas, kekurangan seng akan berpengaruh banyak terhadap jaringan tubuh terutama pada saat pertumbuhan.

Bahan Makanan Sumber Seng

JENIS MAKANAN
KADAR SENG (mg/kilogram basah)
Daging sapi
10-43
Daging ayam
7-16
Ikan laut (cod)
4
Susu
3,5
Keju
40
Beras
13
Kelapa
5
Kentang
3
                       
                        Sumber : Sandstrom, Dietary pattern and zinc supply. Dalam Zinc   in human biology, CF Mills (ed). London : Springer Verlag, 1989 : 351.

                                    Serealia tumbuk dan kacang-kacangan juga merupakan sumber yang baik, namun mempunyai ketersediaan biologik yang rendah.

2.1.2 Ekskresi Seng

                                     Seng dikeluarkan tubuh terutama melalui feses. Disamping itu seng dikeluarkan melalui urin, dan jaringan tubuh yang dibuang, seperti jaringan kulit, sel dinding usus, cairan haid dan mani.

2.1.3 Akibat Kelebihan Seng

                                     Kelebihan seng hingga dua sampai tiga kali AKG menurunkan absorpsi tembaga. Kelebihan sampai sepuluh kali AKG mempengaruhi metabolisme kolesterol, mengubah nilai lipoprotein dan tampaknya dapat mempercepat timbulnya aterosklerosis. Dosis sebanyak 2 gram atau lebih dapat menyebabkan muntah, diare, demam, kelelahan yang sangat, anemia dan gangguan reproduksi. Suplemen seng bisa menyebabkan keracunan, begitu pun makanan yang asam dan disimpan di dalam kaleng yang dilapisi seng.

2.1.4 Akibat Kekurangan Seng

                    Defisiensi seng dapat terjadi pada golongan rentan, yaitu anak-anak, ibu hamil dan menyusui serta orang tua. Tanda-tanda kekurangan seng adalah gangguan pertumbuhan dan pematangan seksual. Fungsi pencernaan terganggu, karena gangguan fungsi pankreas, gangguan pembentukan kilomikron dan kerusakan permukaan saluran cerna. Disamping itu dapat terjadi diare dan gangguan fungsi kekebalan. Kekurangan seng kronis mengganggu pusat sistem saraf dan fungsi otak. Karena kekurangan seng mengganggu metabolisme vitamin A, sering terlihat gejala yang terdapat pada kekurangan vitamin A. Kekurangan seng juga mengganggu fungsi kelenjar tiroid dan laju metabolisme, gangguan nafsu makan, penurunan ketajaman indra rasa serta memperlambat penyembuhan luka.  

2.2 Pengertian HIV

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. HIV adalah nama virus yang menyebabkan AIDS. Jadi bisa dibilang bahwa HIV adalah penyebab dan AIDS adalah akibatnya. Salah satu penularan HIV adalah melalui hubungan seksual. Namun saat ini yang menjadi penyebab penularan HIV adalah melalui jarum suntik pecandu heroin yang digunakan secara bebas bergantian. 
                                    Virus HIV adalah retrovirus yang termasuk dalam family lentivirus. Retrovirus mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus DNA dan dikenali selam periode inkubasi yang panjang. Seperti retrovirus yang lain, HIV menginfeksi tubuh dengan periode imkubasi yang panjang (klinik-laten), dan utamanya menyebabkan munculnya tanda dan gejala AIDS. HIV menyebabkan beberapa kerusakan system imun dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi dengan menggunakan DNA dari CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam prose itu, virus tersebut menghancurkan CD4dan limfosit.
            Secara structural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah silinder yang dikelilingi pembungkus lemak yang melingkar-melebar. Pada pusat lingkaran terdapat untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen yang merupakan komponen funsional dan structural. Tiga gen tersebut yaitugagpol, dan envGag berarti group antigen, pol mewakili polymerase, dan env adalah kepanjangan dari envelope (Hoffmann, Rockhstroh, Kamps,2006).
            Gen gag mengode protein inti. Gen pol mengode enzim reverse transcriptase, protease, integrase. Gen env mengode komponen structural HIV yang dikenal dengan glikoprotein. Gen lain yang ada dan juga penting dalam replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif, vpu, dan vpr.

2.3  AIDS

                                    AIDS adalah sindrom berupa gejala dan infeksi yang muncul karena terinfeksi virus HIV maupun virus sejenis seperti  SIV, FIV yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia sehingga melemah dalam melawan penyakit. Akibat kehilangan kekebalan tubuh, penderita AIDS mudah terkena bebrbagai jenis infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus tertentu yang bersifat oportunistik. Selain itu penderita AIDS sering kali menderita keganasan,khususnya sarcoma Kaposi dan imfoma yang hanya menyerang otak.
                                    Saat seseorang terinfeksi HIV sistem kekebalan tubuh akan mencoba melawan infeksi dengan membentuk antibodi berupa molekul khusus yang seharusnya untuk melawan HIV tetapi berbalik menyerang sistem kekebalan tubuh. Nah dari sini dapat disimpulkan apa jadinnya ketika antibodi seharusnya menjadi pertahanan dalam melawan penyakit tetapi berbalik menyerang dimana sistem kekebalan tubuh seseorang tidak dapat lagi menjalankan fungsinya dalam memerangi infeksi dan penyakit-penyakit, tentunya hal ini akan membuat tubuh menjadi lemah dan sangat rentan terhadap infeksi oportunistik dan terkena penyakit HIV AIDS serta penyakit lainnya.
.













BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Hubungan Atau Korelasi Antara Asupan Zn Dengan Kadar Zn Plasma

Defisiensi zinc paling sering dievaluasi dengan mengukur kadar plasma. Meskipun seng plasma merupakan reaktan fase akut yang dapat berubah dalam menanggapi perubahan metabolik , kadar seng plasma bereaksi terhadap asupan makanan secara cepat dan terukur ( Gershwin et al . 1985 , Tertarik 1990) . Kadar plasma rendah seng telah diamati dalam penyakit bawaan seperti anemia sel sabit ( Ballester et al . 1986) , sindrom Down ( Licastro et al . 1992) dan acrodermatitis enteropathica . Defisiensi zinc juga ditandai oleh aktivitas thymulin menurun dan respon limfosit gangguan ke phytohemagglutinin ( Chandra 1980, 1997) . Defisiensi zinc telah diamati dalam kondisi yang diperoleh , termasuk sindrom malabsorpsi ( McClain 1985) , malnutrisi ( Tertarik 1990) , kanker ( Mocchegiani et al . 1994) , alkoholisme ( Zarski et al . 1987) , stadium akhir penyakit hati ( Pescovitz dkk 1996) . , uremia ( Mahajan et al . 1982) dan penyakit menular kronis dan akut seperti human immunodeficiency virus ( HIV ) 3 tipe 1 ( HIV - 1 ) infeksi ( Ripa dan Ripa 1995) . Demikian pula, tingkat seng diubah dalam plasma , enzim dan neuron telah dibuktikan dalam sejumlah gangguan dari sistem saraf pusat ( Ebadi et al . 1995) . Tingkat zinc plasma yang rendah , baik bawaan atau diperoleh , berhubungan dengan kelainan kekebalan tubuh, proses penyembuhan gangguan dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi .

3.2  Korelasi Antara Status Gizi (IMT) Dengan Jumlah Limfosit CD4
Dalam studi kedua, para peneliti mengamati efek suplemen zinc – yang dikenal memainkan peran penting dalam fungsi kekebalan tubuh – pada pemulihan kekebalan, atau peningkatan CD4 dengan penggunaan ART.
  Bedasarkan penelitian jumlah Limfosit T-CD4 tidak ada hubungannya dengan status gizi pada penderita HIV. Hal tersebut didapatkan dengan menggunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov. Konsep dasar dari uji normalitas Kolmogorov Smirnov adalah dengan membandingkan distribusi data (yang akan diuji normalitasnya) dengan distribusi normal baku. Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk Z-Score dan diasumsikan normal. Jadi sebenarnya uji Kolmogorov Smirnov adalah uji beda antara data yang diuji normalitasnya dengan data normal baku.

3.3  Efek Langsung Zn Terhadap HIV/AIDS

Zn adalah unsur esensial dalam tubuh manusia, berfungsi secara biokimia sebagai konstituen dalam banyak metaloenzym dengan fungsi katalitik, regulator, dan struktural. Banyak penyakit yang berhubungan dengan kondisi kekurangan Zn seperti malfungsi metabolisme dan genetik,  malabsorpsi, sirosis liver, dan kelainan gastrointestinal. Zn diperlukan dalam penyembuhan luka, pembentukan kolagen dan mengatasi diare. Kadmium   (Cd) dan Merkuri  (Hg) dikenal sebagai spesies toksik. Hg yang menembus membran lambung dapat menyebabkan diare. Cd dan Hg dapat memberikan efek toksik akut dengan  cara menduduki posisi yang seharusnya ditempati oleh Zn dalam enzim dan protein.
Zn adalah unsur esensial dalam tubuh manusia. Recommended Dietary Allowance (RDA) Zn untuk orang dewasa di Amerika adalah 15 mg per hari( Saghaie, 2006). RfD (Reference Dose) bagi Zn adalah 21 mg/ hari atau 0.3 mg/kg berat badan per hari (Goldhaber, 2003).   Bentuk senyawa Zn yang digunakan sebagai suplemen nutrisi adalah Zn sulfat, Zn klorida, Zn glukonat, Zn oksida, dan Zn stearat. Zn (II) sulfat dipakai sebagai bahan untuk treatmen bagi individu yang kekuragan Zn. Pemasukan Zn sulfat dalam tubuh cukup sedikit/ sulit sehingga diperlukan dosis yang tinggi. Sayangnya hal ini akan akan menimbulkan efek samping  (Saghaie, 2006).  Sejumlah informasi dari Situs Health Info menjelaskan sejumlah survey berkaitan dengan biofungsi Zn. Di Nepal, sekitar 15.000 anak meninggal setiap tahunnya akibat diare. Untuk menekan angka tersebut, dilakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan mengkampanyekan penggunaan suplemen Zn. Sementara itu kekurangan zinc (Zn)  dapat mempengaruhi immune. Banyak jenis dari cell-cell immune itu tampak tergantung pada zinc untuk fungsi optimalnya.  Terutama pada anak-anak, para peneliti telah mempelajari efek-efek dari kekurangan zinc (dan supplementasi zinc) pada respon immune dan jumlah dari cell-cell darah putih, termasuk studi-studi khusus mengenai T lymphocytes, macrophages, dan cell-cell B (semua jenis cell darah putih).  Kekurangan zinc telah menunjukkan mampu mengurangi jumlah cell-cell darah putih dan respon immune, sementara supplementasi zinc telah tampak mampu mengembalikan ke kondisi normal.
Suplemen Zn mengurangi kejadian diare di antara pengguna narkoba dengan HIV. Hal ini dikatakan oleh para peneliti dalam International AIDS Conference (IAC).Diare secara terus- menerus mempengaruhi sebagian besar pasien dengan HIV/AIDS, mengakibatkan kelainan penyerapan, kehilangan berat badan dan penurunan ketahanan hidup. Dalam uji coba  secara acak,  231 pengguna narkoba yang HIV-positif yang didiagnosis kekurangan  Zn, diberikan   suplemen Zn atau plasebo, 62,3% di antaranya memakai terapi antiretroviral (ART). Laki-laki menerima 15 mg sementara perempuan menerima 12 mg per hari selama satu tahun.  Pemberian suplemen mengurangi kejadian diare sebanyak 50%. Secara khusus, prevalensi diare adalah 14,1% pada penerima suplemen zat Zn dan 29,3% pada pasien kelompok kontrol.Suplemen zat Zn memberi manfaat yang bermakna bahkan setelah memperhitungkan faktor pembaur misalnya ART, viral load dan jumlah CD4. Pemberian suplemen Zn adalah terapi tambahan yang aman dan efektif untuk diare terkait HIV.

3.4 Peran Sel Limfosit Cd4 Pada Sistem Imun Penderita HIV/AIDS
Dalam system kekebalan tubuh yang tanggung-jawab terhadap berfungsinya sistem kekebalan tubuh adalah sel darah putih. Salah satu dari beberapa jenis sel darah putih adalah yang disebut Limfosit (Lymphocyte). Sel CD4 adalah salah satu bentuk dari Limfosit ini. Ada dua jenis sel Limfosit, yaitu Sel B (B-cells) dan Sel T (T-cells). Disebut Sel B karena diproduksi sekaligus dimatangkan di Bone marrow (sumsum tulang). Sel B akan menghasilkan antibody guna melawan patogen yang memasuki tubuh manusia. Disebut Sel T karena produksinya di Bone marrow tetapi pematangannya di kelenjar Thymus (T). Ada tiga kelompok Sel T, yaitu:
1.    Helper T-Cells yang disebut juga dengan nama Sel T4 atau CD4. Tugasnya adalah mengkoordinir dan menggerakkan sel-sel kekebalan tubuh lainnya untuk menghancurkan organisme penyebab penyakit yang masuk ke tubuh manusia.
2.    Supressor T-Cells dikenal juga dengan nama Sel T8 atau CD8 dengan tugas mengendalikan unsur kekebalan tubuh yang lain sehingga tidak menyerang jaringan normal.
3.    Killer T-Cells disebut juga CTLs (Cytotoxic T-Lymphocytes) salah satu jenis sel T8 yang tugasnya mengenali dan merusak sel-sel abnormal atau yang terinfeksi.

Jumlah CD4 seseorang (jumlah sel-T CD4 per milimeter kubik darah) digunakan sebagai indikator sistem kekebalan tubuh. Tidak semua orang memiliki jumlah yang sama. Pada orang sehat, ada semiliar atau lebih limfosit-T CD4 dari berbagai jenis – yang masing-masing dirancang hanya untuk mengenal satu jenis antigen tertentu.
Istilah ‘sel CD4’ sering digunakan untuk menyederhanakan istilah ‘limfosit-T CD4 positif’ – yang secara teknis lebih tepat, karena ada sel CD4 yang bukan limfosit-T. Namun, tulisan ini hanya berkaitan dengan sel T. Limfosit-T sering kali dinamai sesuai dengan molekul pada permukaannya. Limfosit-T CD4 adalah sel T dari sistem kekebalan yang mempunyai molekul CD4 pada permukaannya; limfosit-T CD8 mempunyai molekul CD8. Kedua sel ini memiliki reseptor pada permukaannya. Masing-masing memiliki sekitar 10.000 atau lebih tiruan molekul reseptor antigen tertentu pada permukaan selnya.
Diantara sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia, maka tanggung jawab sel-sel CD4 amat besar. Tugas mereka adalah mengatur berfungsinya sistem kekebalan tubuh. Sel CD4 inilah yang memberi sinyal bahaya dan selanjutnya menggerakkan sel-sel pertahanan tubuh yang lain untuk menyerang intruder yang akan mengganggu tubuh manusia, misalnya virus dan bakteri. Bisa dikatakan bahwa sel CD4 adalah jenderalnya sistem kekebalan tubuh.
CD 4 bisa dikatakan sebagai marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol)
Dalam infeksi HIV, ketika jumlah CD4 menjadi rendah (terutama di bawah 200), beberapa ‘repertoar’ dari sel ini menghilang. Hal ini tidak dapat pulih segera seperti halnya pertambahan jumlah CD4 karena pengaruh obat antiretroviral (ARV). Akhirnya mungkin beberapa repertoar dapat pulih secara alami. Sementara itu, sistem kekebalan tubuh tetap bisa berfungsi dengan baik meskipun beberapa repertoarnya telah hilang.
HIV umumnya menulari sel CD4. Kode genetik HIV menjadi bagian dari sel itu. Waktu sel CD4 menggandakan diri (bereplikasi) untuk melawan infeksi apa pun, sel tersebut juga membuat tiruan HIV. Setelah terinfeksi HIV dan belum mulai terapi antiretroviral (ART), jumlah sel CD4 kita semakin menurun. Ini tanda bahwa sistem kekebalan tubuh kita semakin rusak. Semakin rendah jumlah CD4, semakin mungkin kita akan jatuh sakit.
Ada jutaan keluarga sel CD4. Setiap keluarga dirancang khusus untuk melawan kuman tertentu. Waktu HIV mengurangi jumlah sel CD4, beberapa keluarga dapat diberantas. Kalau itu terjadi, kita kehilangan kemampuan untuk melawan kuman yang seharusnya dihadapi oleh keluarga tersebut. Jika ini terjadi, kita mungkin mengalami infeksi oportunistik.
Patogenesis HIV/AIDS HIV menginfeksi sel dengan mengikat permukaan sel sasaran yang memiliki reseptor membran CD4, yaitu sel T-helper (CD4+). Glikoprotein envelope virus, yakni gp120  akan berikatan dengan permukaan sel limfosit CD4+, sehingga gp41 dapat memperantarai fusi membran virus ke membran sel.  Setelah virus berfusi dengan  limfosit CD4+, RNA virus masuk ke bagian tengah sitoplasma CD4+.  Setelah nukleokapsid dilepas, terjadi transkripsi terbalik (reverse transcription) dari satu untai tunggal RNA menjadi DNA salinan (cDNA) untai-ganda virus.  cDNA kemudian bermigrasi ke dalam nukleus CD4+ dan berintegrasi dengan DNA dibantu enzim HIV integrase.  Integrasi dengan DNA sel penjamu menghasilkan suatu provirus dan memicu transkripsi mRNA. mRNA virus kemudian ditranslasikan menjadi protein struktural dan enzim virus.  RNA genom virus kemudian dibebaskan ke dalam sitoplasma dan bergabung dengan protein inti.  Tahap akhir adalah pemotongan dan penataan protein virus menjadi segmen- segmen kecil oleh enzim HIV protease.  Fragmen-fragmen virus akan dibungkus oleh sebagian membran sel yang terinfeksi. Virus yang baru terbentuk (virion) kemudian dilepaskan dan menyerang sel-sel rentan seperti sel CD4+ lainnya, monosit, makrofag, sel NK (natural killer), sel endotel, sel epitel, sel dendritik (pada mukosa tubuh manusia), sel Langerhans (pada kulit), sel mikroglia, dan berbagai jaringan tubuh (Lan, 2006).  Sel limfosit CD4+ (T helper) berperan sebagai pengatur utama respon imun, terutama melalui sekresi limfokin.

3.5 Defisiensi Zinc (Zn) Terhadap Respon Imun Penderita HIV/AIDS
Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengindentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit. Serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dari jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa.
Defisiensi Imun muncul ketika satu atau lebih komponen sistem Imun tidak aktif, kemampuan sistem Imun untuk merespon patogen berkurang pada baik golongan muda dan golonga tua, respon imun berkurang pada usia 50 tahun, respon juga dapat terjadi karena penggunaan Alkohol dan narkoba adalah akibat paling umum dari fungsi imun yang buruk, namun, kekurangan nutrisi adalah akibat paling umum yang menyebabkan difisiensi imun di negara berkembang. Diet kekurangan cukup protein berhubungan dengan gangguan imunitas selular, aktivitas komplemen, fungsi fagosit, konsentrasi antibody, IgA dan produksi sitokin, Defisiensi nutrisi seperti zinc, Selenium, zat besi, tembaga, vitamin A, C, E, B6 dan asam folik (vitamin B9) juga mengurangi respon imun.
Difisiensi imun juga dapat didapat dari chronic granulomatus disease (penyakit yang menyebabkan kemampuan fagosit untuk menghancurkan fagosit berkurang), contohnya: Aids dan beberapa tipe kanker.
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran masa tubuh. Masa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi (Supariasa, 2002). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan antara sebelum dan sesudah pemberian zinc menunjukkan ada perbedaan bermakna pada berat badan (p=0,030), sedangkan pada kelompok kontrol antara sebelum dan sesudah pemberian zinc menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada berat badan (p=0,839).
Defisiensi zinc biasanya diikuti dengan perubahan kemampuan ketajaman rasa dan bau, dan juga melalui anoreksia dan kehilangan berat badan. Pada level yang lain, zinc berpartisipasi dalam sintesis DNA dan RNA, yang akhirnya berkaitan dengan pembelahan sel, deferensiasi chondrocytes, osteoblas dan fibroblast, traskripsi sel, sintesis somatomedinc, collagen, osteocalcin, dan alkalin phosphatase. Alkalin phosphatase dihasilkan dalam osteoblas dan memberikan simpanan kalsium pada diafise tulang. Zinc juga berparan dalam metabolisme karbohidrat, lipid dan protein yang selanjutnya akan mengarah pada utilisasi makanan dengan baik (Riyadi, sitasi 2011).
Zinc yang dikonsumsi dapat berfungsisecara optimal dalam tubuh apabila nilai albumin plasma cukup. Nilai albumin dalam plasma merupakan penentu utama absorbs zinc. Albumin merupakan alat transport utama zinc. Absorpsi zinc menurun bila nilai albumin darah menurun (Almatsier, 2009). Dari uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa pemberian suplementasi zinc pada penderita HIV/AIDS dapat meningkatkan berat badan, melalui peningkatan asupan zat gizi yang lebih baik.
Penganggulangan malnutrisi pada HIV/AIDS lebih mengacu pada mempertahankan kondisi tubuh agar tetap seperti sebelumnya, akan tetapi penderita HIV/AIDS sangatlah sulit untuk mendapatkan kecukupan nutrsi. Protein dan energi yang merupakan salah satu kebutukan mendasar tubuh juga tidak mudah untuk bisa diterima dengan mudah karena banyaknya masalah-masalah dalam tubuh yang membuatnya terhalangi untuk memasuki tubuh' Ada beberapa penanggulangan kepada penderita HIV/AIDS  mungkin bias memberikan pencegahan dalam menurumya kondisi tubuh.

Penanggulangamya antara lain,
Ø   Multivitamin
Sebuah uji coba yang melibatkan ribuan perempuan fllV positif hamil di Tanzania menemukan bahwa multivitamin sehari-hari sangat bermanfaat bagi ibu dan bayi mereka. Setelah empat tahun, multivitamin temyata dapat mengurangi risiko perempuan terhadap HIV/AIDS dan resiko kenatian sekitar 30%. Sebuah uji coba besar di Thailand juga menemukan baHIVa multivitamin menyebabkan kematian lebih sedikit, terapi hanya antara orang-orang pada tahap lanjut penyakir HIV/AIDS
Ø   Konseling Gizi
Konseling gizi mungkin termasuk pendidikan yang baik bagi para pnderita HIV/AIDS. seperti topic konseling berikut ini:
a.             Mencapai atau mempertahankan berat badan orang sehat
b.            Mengelola kelainan lipid dan Iipod1,stoph1
c.             Mengelola komplikasi diet berhubungan dengan pengobatan antiretroviral
d.            Mengelola gejala -vang dapat mempengaruhi asupan makanan
e.             Tepat penggunaan suplemen herbal dan I atau gizi
f.             Peran latihan
g.            Keamanan pangan (penting untuk mencegah infeksi oporlunistik )

Ø     Makanan Sehat
a.             Kembangkol, tinggi kandungan Zn, Fe, Mn, Se untuk mengatasi dan mencegah defisiensi zat gizi mikro dan untuk pembentukan CD4
b.            Sayuran hijau dan kacang-kacangan, mengandung vitamin neurotropik Bl, 86, Bl2 dan zat gizi mikro yang berguna untuk pembentukan CD4 dan pencegahan anemia.
c.             Tempe atau produknya mengandung protein dan vitamin Bl2. Untuk mencukupi kebutuhan odha dan mengandung bakterisida yang dapat mengobati dan mencegah diare.
d.            Kelapa dan produknya dapat memenuhi kebutuhan lemak sekaligus sebagai sumber energy karena mengandung MCT (metlium chain trigliseride) yang mudah diserap dan tidak menyebabkan diare.
e.             Wortel mengadung beta-karoten yang tinggi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh juga sebagai bahan pembentuk CD4.
f.             Vitamin E bersama dengan vitamin C dan beta-karoten berfungsi sebagai anti radikal bebas. Seperti diketahui akibat perusakan oleh HIV pada sel-sel maka tubuh menghasilkan radikal bebas.
Penanggulangan diatas sebenamya belum bisa menjadi dasar mangatasi malnutrisi pada penderita HIV/AlDS. HIV/AIDS  penyakit yang sangar komplek dan hingga saat ini belum ditemukan cara pengobatan yang bias menyembuhkan HIV/AIDS secara sempurna.

















BAB 1V
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Zn atau yang biasa disebut seng termasuk dalam kelompok zat gizi mikro yang mutlak dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang sangat kecil untuk memelihara kehidupan yang optimal. Fungsi fisiologi yang bergantung pada seng ialah pertumbuhan dan pembelahan sel, antioksidan, perkembangan seksual, kekebalan seluler dan humoral, adaptasi gelap, pengecapan serta nafsu makan. Seng juga berperan penting dalam dalam sistem kekebalan dan terbukti bahwa seng merupakan mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi.
Defisiensi zinc paling sering dievaluasi dengan mengukur kadar plasma. Kadar plasma rendah seng telah diamati dalam penyakit bawaan seperti anemia sel sabit ( Ballester et al . 1986). Tingkat zinc plasma yang rendah , baik bawaan atau diperoleh , berhubungan dengan kelainan kekebalan tubuh, proses penyembuhan gangguan dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi.
Berdasarkan penelitian jumlah Limfosit T-CD4 tidak ada hubungannya dengan status gizi pada penderita HIV. Hal tersebut didapatkan dengan menggunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov. Patogenesis HIV/AIDS HIV menginfeksi sel dengan mengikat permukaan sel sasaran yang memiliki reseptor membran CD4, yaitu sel T-helper (CD4+).
Defisiensi Imun muncul ketika satu atau lebih komponen sistem Imun tidak aktif, kemampuan sistem Imun untuk merespon patogen berkurang pada baik golongan muda dan golonga tua, respon imun berkurang pada usia 50 tahun, respon juga dapat terjadi karena penggunaan Alkohol dan narkoba adalah akibat paling umum dari fungsi imun yang buruk.
Ada beberapa penanggulangan kepada penderita HIV/AIDS lang mungkin bias memberikan pencegahan dalam menurumya kondisi tubuh. Penanggulangamya antara lain : Multivitamin, Konseling Gizi, Makanan sehat. Penanggulangan diatas sebenamya belum bisa menjacli dasar mangatasi malnutrisi pada penderita HIV/AlDS. HIV/AIDS .nempakan penyakit yang sangar komplek dan hingga saat ini belum ditemukan cara pengobatan yang bias menyembuhkan HIV/AIDS secara sempuma.

4.2 SARAN
-          Diharapkan bagi petugas kesehatan untuk dapat melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait akibat kekurangan maupun kelebihan Zn bagi tubuh
-          Bagi penderita HIV / Aids sangat disarankan untuk mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung Zn untuk menghindari defisiensi yang akan bberpengaruh terhadap imun, seperti daging sapi, daging ayam, ikan laut, susu, keju, kentang, beras, dan lain lain
-          Pada penderita HIV/ AIDS , sangat disarankan untuk mengkonsumsi multivitamin serta makanan – makanan sehat yang berguna untuk menanggulangi terjadinya malnutrisi








DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2007. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Anwar,Saiful.2009.Evaluasi Jumlah Sel T-CD4 dan Berat Badan Anak dengan      HIV/AIDS yang Mendapatkan Antiretro Virus:Malang.
Barlett J.G.,Gallant J.E. (2001) Natural History and classification, dalam    Medical management of HIV infection (editor Barlett J.G.) 2nd ed.,    hal 1-4.            John Hopkins University, Baltimore.
Budiasih,Kun Sri.2011.Intereferensi Ion cd (II) dan Hg (II) Terhadap Biofungsi      Persenyawaan Zn (II) pada Tubuh Manusia.Yogyakarta:FMIPA             Universitas Negeri Yogyakarta.
Rundles S.C. (2002) Evaluation of the Effect of Nutrients on Immune Function,   dalam Nutrition and Immune Function (editor Cadler P.C., Field C.J., dan             Gill H.S.), hal: 21-39. CABI Publishing, New York.
Sadewa ,sukma.Pengaruh Pemberian Zinc Terhadap Perbedaan Peningkatan        Status Gizi Pada Pasien HIV/AIDS.Surabaya:Fakultas Kedokteran     Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Shankar AH, Prasad AS. 1998. Zinc and immune function : the biological basis of altered resistance to infection. Am J Clin Nutr 68(suppl):447S-63S.
Solomons NW. 1993. Zinc. Dalam : Macrae R, Robinson RK, Sadler MJ, eds.        Encyclopedia   of  food science,  food technology and nutrition, vol. 7. London : Academic Press       4980-94.


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright GLORY SHINE 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .